BROKEN HOMESetiap pasangan akan merasa tak keruan tatkala mahligai rumah tangga yang telah dibina terpaksa karam diterjang badai. Apalagi, jika buah pernikahan telah lahir. Nasib anak, yang membutuhkan figur ayah dan ibunya, tak mungkin diabaikan begitu saja.

Rekonsiliasi, baik dengan mencari penengah, berkonsultasi dengan konsultan pernikahan, maupun introspeksi, memang selalu dianjurkan. Namun, bagaimana bila kekecewaan terhadap pasangan sudah sedemikian dalam, bahkan mulai melukai diri sendiri?

Kombinasi emosi semacam itu memang kerap dirasakan pasangan yang sedang di ambang perceraian. Biasanya, perasaan yang timbul adalah rasa kehilangan, penyesalan, kemarahan, dendam, depresi, perasaan bersalah, dan kegelisahan.

Kekuatiran akan masa depan juga kerap mengusik. Untungnya, ada enam strategi yang dapat Anda lakukan agar perceraian tidak berubah menjadi akhir dunia.

1. Bebaskan Perasaan

Umumnya, pasangan yang sedang bergumul dengan perceraian akan menghadapi fase-fase berikut: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi dan penerimaan. Anda bisa mempercepat perjalanan menuju penerimaan, dengan mengakui bahwa semua emosi negatif yang Anda rasakan normal, tetapi tidak bisa dijadikan alasan untuk menghancurkan diri sendiri, ataupun menyalahkan pasangan.

Cobalah berbicara dengan pihak ketiga yang netral, semisal terapis pernikahan.

2. Dukungan Orang Terdekat

Beberapa orang merasa canggung membicarakan masalah pribadinya dengan orang asing. Dan, di sinilah orang-orang terdekat memegang peranan. Cobalah temukan seseorang yang bisa Anda percaya, dan curahkan perasaan Anda padanya.

Selain sahabat, keluarga juga bisa dijadikan tempat bersandar. Anda juga bisa memilih pendekatan spiritual, dengan memperbanyak ibadah, atau aktif dalam kegiatan keagamaan.

3. Fokus pada Si Kecil

Sesaat setelah bercerai, hubungan Anda dengan mantan pasangan mungkin akan terasa ganjil. Tetapi, coba singkirkan sejenak ego dan rasa canggung Anda, dan fokuskan perhatian pada si buah hati. Ingatlah bahwa anak  membutuhkan figur ayah dan ibu. Jangan biarkan perpisahan Anda menghancurkan masa depannya.

Supaya buah hati tidak terluka oleh perceraian. Enam cara berikut akan membantu mengatasi luka batinnya.

  • Pastikan anak tidak merasa bertanggung-jawab karena perceraian Anda.

  • Jangan menghalangi mantan pasangan untuk bertemu dengan anak.

  • Dengarkan pendapat anak, dan siapkan jawaban sesuai dengan usianya.

  • Jangan membebani anak dengan urusan yang bukan tanggung jawabnya.

  • Jangan mendiskreditkan atau mencaci mantan pasangan di depan anak.

  • Jangan mencoba menebus kesalahan dengan memanjakan anak secara berlebihan.

4. Cari Aktivitas

Olah fisik, mulai dari jogging, yoga, hingga thai-boxing, akan membantu menenangkan pikiran, sekaligus memulihkan mental, karena olahraga memicu tubuh memproduksi endorfin – senyawa kimia yang membantu meredakan kegelisahan dan depresi. Bonus lainnya, penampilan Anda akan tambah menawan, dan kepercayaan diri meningkat.

5. Tata Ulang

Kegagalan dalam mempertahankan keutuhan rumah-tangga memang suatu tamparan keras bagi harga diri. Tetapi, bukan berarti tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengembalikan keutuhan martabat Anda.

Mulailah meniti karir. Dengan begitu, Anda akan menikmati peran baru. Sehingga, Anda merasa berguna dan kompetenyang berpengaruh besar terhadap harga diri. Hal itu juga membantu mengatasi kemarahan dan kecanggungan terhadap mantan suami.

6. Memaafkan

Langkah terakhir yang harus Anda lakukan adalah memaafkan. Memang, menerima kenyataan, apalagi memaafkan mantan pasangan – dan diri sendiri – butuh waktu. Tetapi, dengan tulus memaafkan, beban emosi akan terlepas, dan Anda jadi lebih bisa merengkuh perasaan positif.

Orang bijak mengatakan, “Meski cinta telah mati, hidup harus terus berlanjut”. Petuah tersebut harus Anda pegang teguh, karena sangat bermanfaat, terutama saat keraguan dan kekhawatiran mulai menghampiri.