sakit gigiKetika sebelah kiri mulutnya mulai berkedut tiga tahun yang lalu, Bapak Lim Tek Pin,76 tahun, mengira bahwa itu hanya sakit gigi. Tetapi saat kunjungan ke dokter gigi menyibak kondisi yang sangat serius. Ada benjolan di langit-langit mulutnya. Beliau dirujuk ke National University Hospital (NUH) di mana tesnya menunjukkan bahwa benjolan itu merupakan tumor ganas. “Saya kira itu hanya sakit gigi biasa. Saya sama sekali tidak mengira bahwa ada benjolan,” kata Bapak Lim. “Tetapi saya tidak sepenuhnya takut.”

Beliau menjalani operasi pengambilan tumor pada bulan Agustus 2004 yang meninggalkan lubang –  lebarnya sekitar 3 cm dan dalamnya 2 cm – di langit-langit mulutnya. Pengoperasi bisa menambal lubang dengan memisahkan sebagian otot di bawah langit-langit dari bagian kepala, dan melipatnya ke bawah dan ke dalam di dalam rongga.

Tetapi Bapak Lim memutuskan menolak hal ini karena beliau memiliki diabetes dan beliau khawatir bahwa lukanya tidak akan sembuh benar atau menjadi terinfeksi. Sekarang, beliau menggunakan bagian badan buatan yang diletakkan di langit-langit mulutnya. Silinder yang mencuat menyumpal lubangnya.

Ayah dari empat orang anak dan kakek dari tiga orang cucu mengatakan: “Setelah operasi, mulut saya tidak sakit sama sekali.”

“Saya hanya tidak dapat minum air terlalu cepat atau airnya akan mengalir keluar dari hidung saya. Saya tidak dapat merasakan makanan tertentu dengan benar. Tetapi saya masih dapat bernyanyi!’ Beliau membuktikannya dengan menyanyikan lagu – bait pertama dari evergreen Mandarin.

Bapak Lim termasuk 150 sampai 200 pasien yang terdiagnosis mengidap kanker mulut setiap tahun. Diperkirakan 75 sampai 90 persen kasus ini disertai oleh rokok dan alkohol.

Kanker mulut juga dihasilkan karena infeksi oleh virus tertentu seperti virus HPV yang menyebabkan kanker serviks, dan virus Epstein-Barr, yang memiliki hubungan dengan kanker hidung dan tenggorokan.

Bapak Lim tadinya merupakan perokok sosial. Beliau mulai mengisapnya pada usia 18 tahun dan berhenti pada usia 56 tahun, ketika beliau pensiun dari pekerjaannya sebagai manajer perusahaan perdagangan karet. Beliau minum alkohol juga, terutama saat bekerja, sambil menghibur klien-klien. Tetapi beliau juga menghentikannya setelah pensiun.

Dokter bedahnya, Dr Victor Fan, konsultan di departemen pengoperasian mulut dan maksilofasial NUH, mengatakan bahwa adalah keberuntungan Bapak Lim merasakan nyeri. Hal inilah yang memicunya menemui dokter gigi dan kanker terdeteksi lebih awal.

Dr Fan, adalah dokter bedah, mengatakan bahwa kebanyakan pasien kanker tidak mengalami gejala apapun sampai sudah terlambat.

Beberapa tanda bahaya: ulkus yang membutuhkan waktu lebih dari 10 hari untuk sembuh, benjolan yang tidak normal atau pendarahan dalam mulut, bercak putih atau merah dalam mulut, dan gigi yang lepas dan goyang.

Kebanyakan pasien didiagnosis hanya ketika kanker telah berkembang dan harus menjalani operasi yang lebih memperburuk penampilan dengan peluang yang lebih tinggi untuk kambuh dan kematian.

Terkadang kanker telah menyebar terlalu jauh, separuh rahang pasien dan bahkan mata mungkin harus diambil, kata Dr Fan. Dalam kasus-kasus yang parah, kanker biasanya kambuh kembali kurang dari enam bulan.

Sembilan dari 10 pasien yang selamat melampaui lima tahun ketika kanker dideteksi lebih awal. Tetapi ketika kanker ditemukan pada stadium lanjut, gambaran ini jatuh sampai kurang dari dua dari 10 pasien.

Mengetahui lebih awal juga berarti bahwa Bapak Lim tidak perlu menjalani kemoterapi atau radioterapi – tidak seperti pasien-pasien yang terdiagnosis lebih lambat.

Beliau juga tidak memerlukan pengobatan apapun. Beliau hanya menjalani pemeriksaan rutin untuk memastikan bahwa kanker tidak kembali.

Syukurlah, hal ini tidak terjadi dan peluangnya terlihat baik, kata Dr Fan.

Untuk kisah-kisah keberhasilan lainnya seperti Bapak Lim, Dr Fan, yang juga menjadi direktur  Association of Oral and Maxillofacial Surgeons, diluncurkan Mouth Cancer Awareness Week tahun lalu.

Mencontoh hal yang serupa di Inggris, kampanye ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran kepada masyarakat dan di antara dokter gigi dan para praktisi umum.

Juga menghimbau masyarakat untuk menjalani pemeriksaan rutin bahkan ketika mereka sehat, jadi kanker apapun dapat diketahui lebih awal.

Dr Fan berkata: ‘Sangat menyedihkan ketika pasien datang terlambat, karena sangat sulit untuk mengubah hasil akhirnya.’

image004

Dr Victor Fan

Konsultan Senior Ahli Bedah Mulut & Maksillofasial

MB BCH; BAO (Inggris), BDS (Singapurae), FDSRCS (Inggris), FRCS (Ing), FRCS (OMFS) Intercollegiate Board, FAMS

Dr Victor Fan adalah salah satu dari dua ahli bedah Mulut dan Maksilofasial yang terkualifikasi secara medis di Singapura. Prakteknya saat ini di Gleneagles Medical Centre meliputi operasi implant gigi, operasi gigi, dan operasi maksilofasial utuma yang termasuk operasi dan rekonstruksi kanker mulut, operasi kecantikan wajah dan ortognatik.

www.orofacialsurgery.com.sg