Proses reproduksi adalah pengalaman sederhana dan alami bagi kebanyakan pasangan. Namun, untuk beberapa pasangan sangat sulit untuk mendapatkan keturunan. Dewasa ini, persoalan ini tak lagi dianggap tabu dan semakin banyak pasangan yang terbuka dan mencari pertolongan ke dokter. Sering perkembangan teknologi kedokteran, deteksi masalah pada gangguan reproduksi bukan lagi hal yang sulit dilakukan.

Meksipun begtu, sebagian orang masih menganggap infertilitas sebagai “masalah perempuan.” Padahal pada sekitar 20% atau 1 dari lima pasangan infertil, masalah ada pada pria. Dan pada 30% -40% pasangan infertil lainnya, pria ikut menjadi salah satu faktor ketidakmampuan istri untuk hamil.

Kesuburan seorang pria umumnya bergantung pada kuantitas dan kualitas spermanya. Jika jumlah sperma seorang pria rendah atau jika sperma berkualitas buruk, akan sulit bahkan tidak mungkin menyebabkan kehamilan. Biasanya infertilitas pria didiagnosis ketika dilakukan tes kesuburan pada pasangan suami istri.

Oleh karena itu penting bagi para pria untuk melakukan uji atau tes kesuburan seperti halnya perempuan. Terkadang pria merasa enggan melakukan tes kesuburan karena malu, padahal menemukan masalah kesuburan pria sejak dini dapat berdampak pada pengobatan lebih dini dan meningkatkan keberhasilan kehamilan.

Langkah awal mengevaluasi kesuburan pada pria adalah dengan mendatangi ahli urologi. Dokter spesialis urologi kemungkinan akan memulai pemeriksaan dengan wawancara mengenai riwayat kesehatan dan riwayat kondisi kesehatan reproduksi. Misalnya apakah pria tersebut pernah melakukan operasi pada organ reproduksi sebelumnya, atau tengah mengonsumsi obat-obatan tertentu. Dokter juga akan menanyakan tentang gaya hidup pasien  termasuk kebiasaan olahraga, merokok, dan penggunaan narkoba.

Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan fisik, biasanya akan berlanjut dengan wawancara mengenai kehidupan seksual pasangan suami istri termasuk masalah dengan aktivitas seksual atau penyakit menular seksual yang pernah diderita sebelumnya.

Apa saja tes kesuburan untuk pria?

Pemeriksaan atau uji kesuburan pada pria terutama dilakukan dengan analisis cairan semen untuk melihat jumlah, bentuk, dan gerakan sperma. Umumnya jumlah sperma yang lebih tinggi mengindikasikan kesuburan yang lebih tinggi. Tetapi sekitar 15% pria infertil memiliki jumlah sperma normal. Jika hasil analisis semen normal, dokter akan melakukan tes kedua untuk memastikan hasilnya.

Beberapa masalah pada produksi sperma di antaranya kelainan kromosom atau genetik pada sperma,  testis yang tidak turun (kelainan bawaan), infeksi, varikokel (varises di daerah testis), kerusakan sperma karena radiasi atau obat-obatan tertentu atau penyebab yang tidak diketahui.

Anehnya, jika dalam hasil tes tidak ditemukan cairan sperma sama sekali (azoospermia), justru bisa menjadi pertanda yang baik, karena kemungkinan hanya ada penyumbatan dalam saluran sperma yang bisa diperbaiki dengan operasi.

Tes hormonal dan antibodi

Otak melepaskan hormon yang disebut Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang memberikan sinyal kepada testis untuk mempropduksi testosteron yang memainkan peran penting dalam produksi sperma.  Tetapi umumnya hormon tidak menjadi masalah utama pada 97% pria infertil. Penyebab lain dari infertilitas pria adalah antibodi anti sperma, di mana antibodi ini diproduksi tubuh justru menyerang sperma sehingga gagal menghasilkan pembuahan.

Sangat disayangkan bahwa sekitar 25% pria infertil tidak diketahui penyebabnya atau sering disebut infertilitas idiopatik. Artinya penyebab infertilitas pria tersebut tidak dapat dijelaskan. Dengan kata lain, tes kesuburan menunjukkan hasil normal tetapi pasangan tidak mampu hamil. Tetapi umumnya setelah melakukan pengujian menyeluruh dari pihak suami atau istri, pasangan akan menemukan penyebab infertilitas mereka dan kemudian melakukan upaya untuk mendapatkan anak dengan pengobatan.