Belakangan ini paradigma produksi bersih (clean production) terus ramai dibicarakan. Hampir dalam setiap pembahasan mengenai lingkungan hidup, isu produksi bersih kerap diangkat. Nampaknya, konsep ini sedang diupayakan untuk dapat bergulir bagaikan bola salju, agar dapat menjadi tren di Indonesia. Apa sebenarnya yang menarik dari isu ini sehingga sedemikian gencar digalakkan?

Lingkungan

 Pada dekade belakangan, persoalan dan permasalahan lingkungan hidup telah menjad amat kompleks dan luas. Mulai dari masalah polusi udara dan air, sampai pada penggundulan hutan, penipisan tanah, pelebaran lubang ozon, pemanasan global, dan lain sebagainya.

Data-data empiris tersebut telah menunjukkan bahwa hampir tidak ada tempat di dunia ini yang tak tercemar, dan tak ada industri yang terbebas dari beban tanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Hal tersebut muncul sebagai akibat dari konsep pembangunan yang digulirkan selama ini hanya untuk mengejar target jangka pendek, yakni pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya.           Kerusakan terhadap lingkungan hidup itu pada akhirnya justru mengancam keberlangsungan pembangunan itu sendiri. Pertikaian antara ekologi dan ekonomi pada akhirnya menjadi pertikaian antara ekologi dan kesejahteraan umat manusia.

Kita berharap produksi bersih nantinya dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan permasalahan lingkungan hidup yang ada saat ini. Apalagi pendekatan terhadap penerapan produksi bersih ini lebih bersifat sukarela. Hal ini jelas lebih memberi nuansa positif dibanding dengan kebijakan-kebijakan lingkungan hidup yang selama ini lebih cenderung pada penataan yang wajib sifatnya (mandatory compilience).

Di samping sifatnya yang sukarela, penerapan produksi bersih ini nantinya diharapkan akan membawa keuntungan bagi industri yang melaksanakannya. Bukan hanya dari segi efisiensi penggunaan sumber daya alam, namun juga diikuti dengan keuntungan lain, seperti pengurangan biaya pengolahan limbah, mengurangi kecelakaan kerja, mencegah kerusakan lingkungan dan peningkatan daya saing. Dengan demikian, bersih bukan hanya berarti indah, tetapi juga ‘clean is efficient cost’. Pertanyaannya kini, apakah budaya kita sudah sampai pada taraf itu, mengingat mengupayakan ‘bersih itu nyaman’ saja sudah sedemikian sulitnya.

 

Lingkaran Dialektika Teknologi

Kita juga perlu mewaspadai agar produksi bersih ini jangan sampai jatuh pada dialektika teknologi. Seorang filsuf, F. Hegel (1770-1831), memperkenalkan prinsip perkembangan alam melalui konsep dialektika, yang meliputi pertentangan antara tesis dan antitesis yang menghasilkan sintesa, yang kemudian kembali berulang menjadi tesis-demikian seterusnya. Kita tak mengharapkan produksi bersih yang kini sedang digulirkan sebagai jalan keluar (sintesa) antara pembangunan ekonomi (tesis) dan permasalahan ekologi (antitesa), pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan antitesis baru di kemudian hari.

Contoh sederhana adalah penggunaan DDT, yang awalnya dianggap sebagai dewa penyelamat manusia dari bahaya malaria, ternyata justru memiliki dampak negatif terhadap kesehatan umat manusia dan pelestarian fungsi lingkungan hidup, karena sifat persistensinya. Bukan tidak mungkin teknologi alternatif yang ditawarkan dengan label hijau saat ini, seperti HCFC, HC (pengganti CFC) dan BBG (pengganti bensin bertimbal) akan bernasib sama seperti DDT, karena kurangnya aspek berkelanjutan. Tentunya kita semua berharap paradigma produksi bersih ini tidak akan mengalami nasib serupa.

Untuk itu kita perlu melihat persoalan paradigma produksi bersih ini secara  lebih mendalam. Permasalahan lingkungan hidup tidak semata-mata bersumber pada teknologi yang digunakan, melainkan berdasar pada watak manusia sebagai pelaku. Agar perusakan dan pencemaran lingkungan hidup tidak kembali berulang, pengembangan paradigma poduksi bersih perlu juga mempertimbangkan dan mengembangkan pengertian bersih bukan hanya dalam konteks teknologi, tetapi juga bersih dalam pengembangan moral dan etika manusianya. (Anton Ryadie)