Seperti diketahui, perubahan iklim sudah berlangsung dan dampaknya makin terasa. Tak ada pilihan lain, semua negara kini harus berjuang secepatnya, meredam pemanasan global dengan menurunkan emisi karbon.

pemanasan Global

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam laporan edisi finalnya yang dilansir beberapa waktu lalu, mengingatkan bahwa emisi tiga gas rumah kaca terpenting, mencapai tingkat tertinggi sejak 800.000 tahun terakhir. Laporan ini sebetulnya tidak baru dan tidak mengejutkan, karena merangkum tiga edisi laporan sebelumnya.

Tapi dengan menggarisbawahi lingkupnya pada dampak berbahaya perubahan iklim dengan peringatan tegas, laporan ini menjadi bermakna lain. IPCC mengingatkan, penurunan emisi karbon akibat penggunaan bahan bakar fosil besar-besaran, harus diturunkan hingga ke tingkat nol di akhir abad ini. Jika tidak, kenaikan suhu global rata-rata akan mencapai 4 derajat Celsius dengan dampak mengerikan pada manusia.

Juga diingatkan, perubahan yang dipicu pemanasan global bisa bersifat permanen bagi ekosistem dan untuk manusia. Sejumlah impak sudah eksis, misalnya naiknya muka air laut, mencairnya gletsyer dan lapisan es di kutub serta makin sering terjadinya kekeringan berkepanjangan.

Negara-negara pulau di seluruh dunia sudah mulai merasakan dampak naiknya permukaan air. Mungkin Maladewa di Samudra Hindia yang terutama merasakannya. Negara itu dianggap yang terendah di seluruh dunia. Tingginya 26 atol itu hanya 1,5 meter di atas permukaan laut.

Laporan IPCC tidak menyebutkan secara eksplisit apa yang diharap dari masyarakat dunia. Tapi tren yang ada merekomendasikan pada penggunaan lebih intensif energi terbarukan di rumah tangga, industri dan sektor transportasi digabung dengan teknologi penyimpanan karbondioksida.

Namun para pakar iklim juga menyadari, sulit mencapai kesepakatan global terkait tema ini. Terutama negara industri maju dan negara ambang industri yang merupakan produsen emisi gas rumah kaca terbesar hingga kini masih saling tuding terkait kewajiban masing-masing. Sejak bertahun-tahun perundingan iklim untuk mencari pengganti Protokol Kyoto berupa kesepakatan mengikat terus mengalami kegagalan.