Hipertiroidisme atau tiroid overaktif adalah kondisi yang sangat jarang terjadi pada anak-anak, sebaliknya – hipotiroidisme – lebih umum ditemukan. Pada bulan Juni tahun ini, anak perempuan Penny Tan yang berusia 6 tahun, Claudia menderita gangguan ini. Kelenjar tiroid yang terlalu banyak menghasilkan hormon tiroid dapat menyebabkan berbagai gejala, baik ringan sampai berat.

hipertiroid

Penny mengatakan bahwa, “Dia mengeluhkan detak jantung yang kencang saat sedang duduk. Beberapa kali dia juga mengeluhkan rasa nyeri di sekitar dada.”

“Saya juga menyadari bahwa matanya selalu melotot sejak bulan May dan nafsu makannya meningkat sejak Februari. Dia makan 4 piring nasi setiap kali makan namun dia tetap saja sangat kurus. Dia juga bernafas dengan sangat cepat selama tidur.”

Keluhan lain yang dikeluhkan anak-anak dan orang tua adalah perubahan mood seperti gelisah, gugup, peningkatan aktivitas, kurang tidur atau sulit tidur, kelelahan, peningkatan gerakan usus, tahan terhadap peningkatan suhu (selalu merasa hangat), sulit berkonsentrasi, penurunan performa di sekolah.

Jangan Diabaikan

Pada awalnya Penny tidak tahu bahwa yang menyebabkan hal ini adalah hipertiroidisme, namun dia dan suami sangat khawatir dengan kondisi Claudia. Akhirnya mereka memutuskan berkonsultasi dengan ahli pediatrik di bulan Agustus, dan dirujuk ke ahli endokrin di KK Woman’s and Children’s Hospital.

“Dokter menjelaskan bahwa banyak sekali faktor yang menyebabkan kondisi hipertiroid. Hal ini bisa saja bersifat diturunkan karena ibu dan mertuanya juga mengalami hipertiroid, atau akibat makanan yang dimakan, bahkan stres. Dokter tidak dapat memastikan penyebabnya,” kata Penny. Dokter juga mengatakan bahwa kondisi hipertiroid sangat jarang terjadi pada anak-anak. Namun kondisi ini terjadi lebih banyak pada bagian negara yang lain dibanding negara asal sang dokter, India. Selain itu, anak perempuan lebih sering menderita ini dibandingkan anak laki-laki.

Untuk memastikan diagnosa hipertiroid dibutuhkan beberapa pemeriksaan termasuk pemeriksaan fungsi tiroid, pemeriksaan darah untuk menghitung kadar hormon tiroid dan kadar TSH (thyroid-stimulating hormone) serum ; ultrasonik tiroid, pemeriksaan obat-obatan nuklir, yaitu dengan menganalisa sebaik apa tiroid penderita menyerap iodin, zat utama dalam memproduksi hormon tiroid; atau biopsi aspirasi dengan jarum kecil.

Opsi Perawatan

Setelah diagnosa hipertiroidisme dipastikan, opsi perawatan seperti medikasi anti tiroid, ablasi iodin radioaktif dan tiroidektomi total (intervensi bedah membuang kelenjar tiroid). Pada kasus Claudia, dia diresepkan 2 jenis obat-obatan – yang pertama untuk memperlambat detak jantung dan yang lainnya obat-obatan anti tiroid.

Penny menjelaskan, “Intervensi bedah tidak disarankan apabila dapat bereaksi baik dengan obat-obatan. Obat penurun detak jantung tidak perlu diminum lagi setelah 3 minggu atau pada saat detak jantung sudah kembali normal.”

Penny juga mengeluhkan bahwa Claudia tidak terlalu banyak makan saat ini, sehingga dokter mengurangi dosis obat anti tiroid yang harus diminum selama satu setengah tahun dan dengan monitoring dari dokter setiap bulan, setiap 3 bulan dan setiap 6 bulan.

“menurut dokter, kondisi ini adalah kondisi yang tidak menyenangkan. Apabila tiroid telah kembali berfungsi dengan normal tanpa obat-obatan, kondisi ini dapat kembali terjadi selama pubertas atau selama masa menopause dimana terjadi perubahan hormon.” Kata Penny.

Hal yang Dipelajari

Setelah mendapat pengalaman ini, Penny senang karena dia mendengarkan dengan baik keluhan dari Claudia. “saya belajar untuk tidak mengabaikan keluhan anak saya terutama berkaitan dengan masalah kesehatan. Claudia mengeluhkan jantungnya dari awal dan jantung adalah salah satu organ penting di tubuh kita,” kata Penny. “Jangan ragu membawa anak Anda ke dokter apabila sulit menentukan diagnosa penyakit atau ingin mendapatkan perawatna yang tepat.”

Dia saat ini lebih awas berkaitan dengan gejala hipertiroidisme karena kedua anaknya – berusia 3 tahun dan 7 bulan. “saya takut mereka juga dapat mengalami kondisi ini sehingga dokter meminta saya untuk terus memperhatikan gejalanya”. Ini adalah saran dari ibu yang mendengar keluhan anaknya.