MencegahHari masih pagi ketika Arsal (50 tahun), sudah mengantre di depan loket pendaftaran Puskesmas Kecamatan Kembangan. Ia begitu tergesa-gesa untuk mendapat nomor urut kecil, karena siangnya, aku wiraswastawan itu, harus kembali ke toko untuk mengurus usahanya.

Bukan penyakit musiman macam flu atau batuk yang diderita Arsal. Tapi ini: hipertensi. Ketika konsultasi ke dokter, ia kerap menyebutnya dengan darah tinggi saja. Sudah hampir 6 tahun terakhir ini hipertensi bersarang di tubuhnya. Untungnya, ia termasuk rajin konsultasi ke dokter Puskesmas, sehingga tekanan darahnya dapat terkontrol. Arsal pun tak harus sering minum obat. Ia menyiasatinya dengan hal lain: rajin olahraga.

Problemnya, di lini pelayanan primer (Puskesmas), orang seperti Arsal bisa dihitung dengan jari. Jangankan ke dokter atau Puskesmas, hanya sekadar memeriksa tekanan darahpun orang banyak yang malas. Padahal, penderita hipertensi cukup tinggi. Dan ujung tombak deteksi justru terletak di pelayanan primer.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), pada tahun 2011 setidaknya terdapat 1 miliar orang di dunia menderita hipertensi, dan dua per tiga diantaranya berada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah-sedang. Di Indonesia, penderita hipertensi cukup tinggi. Angkanya, demikian ungkap Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, berada di kisaran 17-21%.

Masalah utama, selain angka yang terus menanjak sejalan dengan pergeseran pola hidup masyarakat, juga karena hipertensi merupakan problem serius kesehatan dunia yang menyebabkan beban biaya kesehatan yang tinggi. Prevalensi hipertensi akan terus meningkat, dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29 persen orang dewasa di seluruh dunia terkena hipertensi.

Kondisi tersebut tambah memprihatikan karena orang yang menderita hipertensi berisiko tinggi mengalami komplikasi penyakit mematikan. Hipertensi menyebabkan sekitar 51 persen dari kematian akibat stroke dan 45 persen dari penyakit jantung koroner.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), di sela-sela temu media menyambut “Hari Kesehatan Dunia 2013” mengungkapkan, hipertensi pada dasarnya dapat dikendalikan. Caranya, dengan mengadopsi perilaku CERDIK, yakni Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres.

Karena begitu besarnya bahaya yang ditimbulkan hipertensi, baik sosial maupun ekonomi, maka tak heran bila tema Hari Kesehatan Dunia 2013 fokus pada penyakit berjuluk the silent killer tersebut. Tepatnya, tema yang diusung adalah ‘Waspadai Hipertensi, Kendalikan Tekanan Darah’.

Lebih lanjut Prof Tjandra menekankan agar masyarakat senantiasa ingat dan mengingatkan kerabatnya tentang bahaya hipertensi, menerapkan perilaku CERDIK dalam mencegah hipertensi, mengukur tekanan darah secara rutin dan teratur, serta minum obat sesuai anjuran dokter bagi yang sudah terkena hipertensi. Karena pada prinsipnya, “Hipertensi dapat dicegah dan diobati,” ujar Prof Tjandra.

Begini Mekanismenya 

Literatur medis mengungkap, hipertensi terjadi bila ada kenaikan tekanan darah di luar dari batas normal. Nilai normal tekanan darah, konsensusnya adalah jika di atas 130 sudah dianggap tidak normal, itulah sebabnya tekanan darah harus di bawah 130.

Tentu saja, batasan normal dan tidak normal itu mengacu pada kesepakatan bersama. Joint National Committee (JNC) 7 misalnya, menyebut batasan hipertensi yang makin lama makin rendah.

Ada dua jenis hipertensi, yaitu esensial dan sekunder. Paling banyak adalah hipertensi esensial karena bersumber pada masalah pembuluh darah dan sebagainya. Hipertensi sekunder terjadi karena kondisi yang lain misalnya gangguan di pembuluh darah
ginjal atau kerusakan fungsi ginjal.

Lingkungan sangat mempangruhi kerusakan pembuluh darah. Misalnya penyandang diabetes proses aterosklorosisnya terjadi lebih dini karena kadar gula darahnya yang tinggi dalam waktu lama.

Karena hipertensi merusak dinding pembuluh darah dan merusak perangai pembuluh darah, maka hipertensi sekaligus menjadi faktor risiko ateroklerosis. Ada dua cara hipertensi ‘membunuh’ manusia. Pertama, dengan cara merusak pembuluh darah, isalnya pembuluh koroner, pembuluh darah otak. Kedua, merusak otot jantung. Otot jantung yang dirusak akan menyebabkan gagal jantung. Gagal jantung mengakibatkan turunnya kemampuan jantung memompa darah dari jantung.

Hipertensi nyaris tanpa keluhan. Bahkan, adakalanya dengan minum obat, keluhan hilang dengan sendirinya. Anehnya lagi, banyak penderita yang tidak punya keluhan, lalu minum obat, sudah cukup. Justru, kalau tensinya diturunkan malah jadi pusing. Hal itu terjadi karena pada saat tensi 240 tidak ada keluhan, begitu diturunkan menjadi 160 atau 140 langsung pusing.

Karena tensinya sudah terbiasa naik sejak beberapa tahun terakhir dan si penderita sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu, tubuhnya sudah beradaptasi, semua organ sudah beradaptasi, saat diubah maka akan timbul reaksi dari organ tubuh. Otak, ginjal, jantung, sudah beradaptasi dengan tensi yang tinggi begitu diturunkan, badannya tidak enak, pusing, pandangan kabur, vertigo dan banyak lagi.

Jadi, selama adaptasi tubuh baik, tidak ada gejala. Kecuali begitu tekanan darah naik tibatiba lalu terlambat adaptasi, maka terjadilah pusing, keluhan lain seperti sesak napas. Itulah kenapa hipertensi disebut the silent killer, membunuh secara diam-diam tanpa pernah memberi peringatan sekecil apapun.

Cek tensi sangat mudah dan murah. Kalau dalam beberapa kali cek hasilnya tinggi, dipastikan hipertensi.

Abai Karena Tanpa Gejala

Kenapa banyak yang abai dengan hipertensi? Sebabnya, hipertensi dianggap punya gejala, padahal tidak ada gejala yang khas, bisa saja tekanan darahnya 200 tapi tidak ada keluhan sedikitpun. Paling-paling hanya mengeluh tengkuknya pegal, padahal orang kedinginan juga tengkuknya bisa pegal sehingga tidak ada keinginan yang mendorong orang melakukan pemeriksaan ke dokter.

Begitu ada gejala entah sesak atau sakit dada atau rasa melayang, itulah yang dinamakan tekanan darah tinggi.

Jangan Santai Saat Muda

Ini dia ancaman yang menyertai kaum muda yang hidupnya terlalu santai: hipertensi. Sebuah riset jangka panjang, yakni berlangsung selama 20 tahun berhasil membuktikan hal itu. Kaum muda yang malas melakukan aktivitas fisik, bakal terkena hipertensi.

Padahal, sekira sepertiga kasus hipertensi bisa dicegah bila kaum muda melakukan aktivitas fisik mencukupi.

Peneliti di program studi kedokteran pencegahan di Northwestern University Feinberg School of Medicine, mengatakan, mereka yang aktivitas fisiknya kurang, makin mudah terserang hipertensi.  Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika serikat mencatat, hipertensi merupakan faktor risiko munculnya penyakit jantung, gangguan ginjal, dan stroke.

Aktivitas fisik teratur merupakan salah satu cara mencegah timbulnya hipertensi. CDC merekomendasikan aktivitas fisik dilakukan selama 30 menit, minimal 3 kali seminggu.