Selama beberapa saat, Eddie, yang berusia 70 tahun telah mengeluhkan nyeri pinggang. Dia telah meminum obat penghilang sakit namun nyeri datang kembali. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk ke dokter dan melakukan pemeriksaan X-ray, diketahui bahwa terdapat fraktur kompresi pada salah satu tulang belakang pingganggnya. Hal ini yang menyebabkan nyeri. Eddie kebingungan karena tidak ingat pernah mengalami cedera langsung pada tulang belakangnya. Dokter menyarankan Eddie melakukan pemeriksaan kepadatan mineral tulang, sebuah prosedur sederhana yang dapat memastikan apakah dia menderita osteoporosis pada tulang belakang. Eddie dirujuk kepada saya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Osteoporosis

Kondisi osteoporosis tidak umum terjadi pada pria dan lebih umum terjadi pada wanita lansia. Tidak seperti wanita yang kehilangan tulang secara cepat setelah menopause, derajat kehilangan tulang pada pria lansia berlangsung lebih lambat. Terlepas dari asupan kalsium dan vitamin D, kecukupan jumlah hormon seks  juga dapat membantu menjaga kualitas tulang yang baik.

Selain itu, kondisi yang menyebabkan peningkatan jumlah hormon tiroid atau paratiroid dapat menyebabkan kehilangan tulang. Kepadatan mineral tulang/bone mineral density (BMD) dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan X-ray dual absorptiometry tulang, suatu pemeriksaan X-ray sederhana dan non invasif yang dapat mendeteksi kualitas tulang seseorang dan dibandingkan dengan dewasa muda yang sehat.

Hasil BMD dapat diketegorikan sebagai normal, atau osteopaenia (atau pre-osteoporosis, menurut istilah layman) atau osteoporosis. Namun bukan berarti bahwa penderita dengan osteopaenia memiliki resiko rendah mengalami fraktur. Faktor pendukung lainnya antara lain lemah, berbadan kecil, sering terjatuh, merokok, konsumsi alkohol berat, riwayat keluarga fraktur, penggunaan steroid (biasanya terdapat pada obat-obatan tradisional), dan penyakit seperti reumatoid artritis.

Untuk itu, hal ini sebaiknya dipertimbangkan bersamaan dengan hasil BMD dan resiko fraktur menggunakan kalkulator resiko yang didesain untuk populasi atau komunitas spesifik, seperti salah satu yang dikembangkan oleh World Health Organisation untuk masyarakat Indonesia

Eddie adalah perokok berat selama beberapa tahun, dengan konsumsi rokok sekitar 20 batang per hari, yang merupakan faktor resiko kuat. Dari pemeriksaan darah ditemukan bahwa Eddie memiliki kadar vitamin D dan testosteron, hormon seks pada pria, yang rendah. Selain vitamin D, kualitas tulang yang baik Ditentukan oleh kadar testosteron. Karena testosteron menurun seiring dengan pertambahan usia, pria lansia memiliki resiko tinggi mengalami kehilangan tulang dan fraktur.

Testosteron yang rendah juga menyebabkan terjadi kehilangan kekuatan otot dan kelemahan, fungsi seksual dan kualitas hidup buruk (menjadi mudah lelah, stamina berkurang), terjadi diabetes dan mortalitas tinggi akibat penyakit jantung. Walaupun dari pemeriksaan kepadatan tulang diketahui bahwa eddie terdapat dalam kategori osteopaenik (yaitu belum mengalami osteoporosis namun jumlahnya telah berkurang), dia memiliki resiko mengalami fraktur kembali karena telah memiliki riwayat fraktur.

Pada kasus eddie, perawatan dilakukan dari berbagai sisi. Dimana sebagian besar penderita mengkonsumsi vitamin D3 dengan dosis 1000 unit per hari, dosis ini tidak cukup untuk mengatasi kekurangan ini. Sehingga Eddie diberikan vitamin D2 dengan dosis 50.000 unit seminggu sekali selama 2 bulan. Defisiensi testosteronnya ditangani dengan suntikan testosteron yang dapat bertahan selama 3 bulan. Jenis terapi ini memastikan bahwa tidak ada testosteron yang terbuang akibat penyerapan yang kurang baik. Peningkatan hasil BMD dapat diketahui setelah 6 bulan setelah memulai terapi testosteron dan tetap terjaga selama terapi testosteron terus dilakukan.

Terlepas dari peningkatan kualitas tulang, Eddie mengalami peningkatan kualitas hidup yang dramatis setelah kadar testosteronnya terjaga. Staminanya lebih baik, tidak lagi mengantuk di sore hari, dan ketertarikan seksualnya kembali lagi. Dia juga mengatakan bahwa garis pinggangnya berkurang.

Walaupun terapi vitamin D dan defisiensi testosteron penting pada kasus osteoporosis pada pria, terapi standar osteoporosis seperti bisfosfonat juga harus dilakukan. Terapi bifosfonat biasanya dilakukan secara oral setiap minggu. Namun hal ini tidak efektif karena penyerapan tubuh penderita yang buruk. Zoledronate, salah satu jenis bisfosfonat, tersedia dalam suntikan intravena sekali setahun yang dapat dilakukan di klinik. Eddie, sebagai orang yang sibuk dan sering lupa, lebih menyukai terapi yang nyaman dan hemat biaya ini. Karena efek jangka panjangnya, zoledronate dapat dihentikan setelah 3-5 tahun. Namun terapi vitamin D dan testosteron terus dilakukan untuk menjaga angka BMD.