Rata-rata kantung kemih orang dewasa dapat menampung dua gelas urin. Namun satu dari tujuh wanita mengalami kondisi di mana urin secara tidak sadar keluar sewaktu mereka batuk, bersin bahkan tertawa.

Stress Urinary Incontinence (SUI) adalah kondisi medis dimana aktivitas fisik menyebabkan kebocoran urin. Kebocoran yang terjadi dapat berupa  tetesan, atau semprotan, atau lebih banyak lagi pada kasus yang lebih parah. SUI terjadi akibat berbagai faktor, namun biasanya berkaitan dengan melemahnya otot yang mengontrol urin. Kelemahan otot-otot ini mengurangi kemampuan menahan tekanan abdominal akibat urin yang terkumpul sehingga menyebabkan keluarnya urin secara tidak disadari. Otot yang terlibat meliputi otot sphincter yang terletak di leher kantung kemih, atau otot dasar panggul yang menyokong kantung kemih.

Masalah Urin

SUI seringkali disebabkan oleh perubahan fisik pada tubuh. Perubahan ini dapat terjadi akibat kehamilan, melahirkan, menopause, atau kerusakan pada uretra. Faktor lain seperti obesitas, merokok,  dan batuk kronis juga memperparah kondisi.

SUI seringkali menyebabkan rasa malu bagi penderitanya; sehingga wanita seringkali menutup diri atau membatasi kehidupan karir dan sosial. Namun hal ini hanyalah solusi sementara dan tidak dapat menyelesaikan masalah jangka panjang. Terdapat solusi yang lebih mudah dan efektif. “Ada beberapa opsi terapi yang tersedia. Hal ini berarti bahwa seseorang dengan SUI tidak perlu menggunakan popok seumur hidup mereka,” kata Dr Arthur Tseng,

Namun sebelum terapi dimulai, penderita  dengan suspek SUI harus menjalani beberapa pemeriksaan pada panggul (untuk wanita) atau pemeriksaan genital (untuk pria). Beberapa pemeriksaan dapat menganalisa kapasitas kantung kemih dan memberikan gambaran pada daerah tersebut. Pemeriksaan ini meliputi tes tekan urin, dimana ahli profesional melakukan observasi dan mengukur kehilangan urin setelah batuk; pemeriksaan fisik abdomen dan genital; atau tes urodinamik, yang digunakan untuk mengetahui fungsi kantung kemih serta terdiri atas beberapa tes yang lebih kompleks seperti tes ultrasound atau sitoskopi, dimana menggunakan instrumen tipis dan berlampu yang dimasukkan ke uretra sehingga ahli profesional dapat melihat ke dalam kantung kemih.

Saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan SUI. Namun, dokter dapat merekomendasikan latihan dasar pelvis yang dapat dilakukan sehari-hari  (Senam Kegal) sebagai alternatif lain dari bedah. Dibawah pengawasan ahli terapi, pasien mempelajari beberapa gerakan untuk menguatkan jaringan panggul – yang terdiri atas kantung kemih, uterus, dan usus – untuk membantu mengurangi dan mencegah keluarnya urin.

Terapi ini dapat dilakukan dengan mesin Urostym, yaitu sebuah alat yang menggunakan stimulasi elektrik dan umpan balik untuk merangsang rehabilitasi pada dasar panggul. Walaupun terapi ini membutuhkan waktu, usaha dan latihan agar membuahkan hasil, sebagian besar penderita SUI menunjukkan perbaikan setelah 8-20 minggu. Beberapa diantaranya bahkan sembuh dan hanya membutuhkan latihan harian minimal untuk menjaga kekuatan otot. “Latihan ini pada awalnya tidak nyaman dan membosankan, namun telah terbukti berhasil,” kata Dr Arthur Tseng,

Namun apabila dibutuhkan terapi bedah, penderita disarankan melakukan Tension-free Vaginal Tape operating procedure (TVT/TVT-O), yang menunjukkan tingkat keberhasilan mencapai 94%. Prosedurnya cepat, efektif, dan hampir tidak membutuhkan masa penyembuhan.  Kenyataannya, SUI dapat disembuhkan kurang dari 15 menit. Namun demikian, penyedia layanan kesehatan hanya menyarankan bedah setelah mencoba opsi terapi non invasif.

SUI tidak perlu menyebabkan rasa malu kronis, tidak perlu menderita sendiri. Dengan berbagai opsi perawatan yang tersedia, SUI dapat dengan mudah diatasi. Yang Anda butuhkan pada tahap awal adalah kesadaran bahwa Anda membutuhkan bantuan profesional.