Masa Depan di Pertanian Organik“Tak hanya di Amerika Serikat, di Indonesia petani pun gandrung dengan pestisida. Tujuannya cuma satu: meningkatkan produksi pertanian. Padahal, pestisida merupakan titik awal kehancuran panen itu sendiri.”

Berita mengejutkan itu datang dari Environmental Working Group, lembaga independen yang meneliti tentang kadar pestisida di Amerika Serikat. Dalam sebuah risetnya, lembaga independen itu menyebut sebanyak 12 buah dan sayur yang paling rentan mengandung pestisida. Sayur dan buah itu, di antaranya: buah persik (peach), apel, paprika, seledri, nektarin, stroberi, ceri, kubis, selada, anggur (impor), pir, dan wortel.

Menyoal petani dengan kegemaran memakai pestisida memang sama. Tak hanya di Amerika Serikat, di Indonesia petani pun gandrung dengan pestisida. Tujuannya cuma satu: meningkatkan produksi pertanian. Padahal, pestisida merupakan titik awal kehancuran panen itu sendiri. Kegandrungan petani dengan penggunaan pupuk kimia pada awalnya memang berdampak positif. Produksi pertanian meningkat tajam. Panen dapat dilakukan berkali-kali dalam satu tahun. Namun, di sisi lain, pemakaian pupuk kimia berakibat pada kerusakan fisik dan kimia alami tanah. Implikasinya, secara menerus diperlukan dosis yang semakin tinggi.

Hal ini merupakan kompensasi dari semakin tingginya  kerusakan ekologis tanah. Kondisi  ini tidak terasa terus berlanjut hingga tanah tidak mampu berfungsi lagi sebagai media tumbuh yang menghidupi. Tanah tidak lebih dari busa tempat bergayut tanaman. Sebagian besar kebutuhan zat hara tanaman harus disuplai dari luar. Kebutuhan pupuk yang awalnya ditujukan sebagai stimulan pertumbuhan tanaman, menjadi sesuatu yang bersifat mutlak adanya.

Hal yang sama terjadi pada penggunaan pestisida kimia. Serangga yang menjadi hama tanaman secara cepat seakan lenyap dengan pestisida. Sebenarnya serangga tersebut tidak habis, melainkan menyingkir sementara untuk melakukan adaptasi genetic, untuk kemudian, datang dengan kekuatan genetik yang lebih prima.

Akibatnya, diperlukan dosis yang semakin besar dan jenis pestisida yang semakin kuat. Penggunaan dosis yang semakin tinggi berdampak pada matinya jenis-jenis predator (pemangsa) hama yang dalam kondisi alami (tanpa pestisida) mengontrol populasi hama.Maka terjadilah ledakan populasi hama yang tidak terbendung.

Saat ini petani telah terlanjur terbiasa dan bahkan begitu fanatik dengan penggunaan sarana produksi yang serba kimia. Dampak
intensifikasi lahan yang berlangsung selama puluhan tahun tidak mudah diputar balik sebagaimana kondisi dulu, saat pertanian masih minim menggunakan pestisida.

Untuk menjaga kesuburan tanah, petani zaman dulu terampil mengatur musim dan pola tanam. Untuk menghalau serangan hama, mereka menemukan berbagai jenis kombinasi tanaman yang tidak disukai hama. Petani zaman dulu telah merumuskan kalender musim dengan rumus dan hitungan yang jelas. Mereka begitu harmonis dan sensitif dengan tanda-tanda alam. Sayangnya keragaman kekayaan spiritual yang menjadi kekuatan dan jati diri bangsa itu telah banyak terkubur oleh deru intesifikasi di masa lalu.

Tidak ada kata terlambat. Pertanian sekarang harus kembali mengadopsi model zaman dulu. Dengan mengutamakan konsep pertanian organik, mereka harus kembali ke alam, bersinergi dengan alam untuk menghasilkan produk pertanian terbaik.

Dalam konteks sekarang, kembali ke pertanian organik bisa dimulai dengan mengomposkan sampah organik rumah tangga, sampah sekitar rumah, sampah kebun, sampah desa dan seterusnya. Setiap lembar sampah organik harus diinvestasikan kembali ke alam.

Kembali ke organik dapat dipandang sebagai upaya pembebasan dari industrialiasi sarana produksi bahan-bahan kimia yang menggurita dan semakin membelenggu petani.

Dengan budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis atau insektisida, potensi panen melimpah dan menyehatkan seharusnya berada di depan mata. Beberapa tanaman Indonesia yang berpotensi
untuk dikembangkan dengan teknik organik diantaranya padi hortikultura sayuran dan buah (brokoli, kubis merah, jeruk), tanaman perkebunan (kopi, teh, kelapa), dan rempah-rempah.

Pada dasarnya, pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan.

Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan. Pertanian organik juga harus memperhatikan keadilan baik antarmanusia maupun dengan makhluk hidup lain di lingkungan. Untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia baik pada masa kini maupun pada masa depan.