Tes kolonoskopi memungkinkan seorang dokter melihat dengan jelas tampilan usus besar seseorang. Prosedur ini umumnya dilakukan oleh gastroenterologist atau dokter spesialis saluran pencernaan untuk mengevaluasi dan mendiagnosis pasien yang mengalami gejala gastrointestinal, termasuk sakit perut, perdarahan saluran cerna, atau perubahan pada kebiasaan buang air besar. Seorang dokter mungkin juga merekomendasikan tes kolonoskopi untuk memsatikan ada tidaknya polip atau kanker kolorektal.

Secara umum, skrining kolonoskopi direkomendasikan kepada orang beusia di atas usia 50 tahun, terutama mereka yang memiliki riwayat polip atau kanker kolorektal di keluarga.

Apa tujuannya?

Dokter spesialis pencernaan di Singapura akan menggunakan kolonoskopi untuk mengamati lapisan usus kita. Kolonoskopi adalah alat berbentuk tabung panjang yang lentur, dilapisi plastik serta di ujungnya ada kamera kecil untuk mengambil foto bagian dalam usus, dan hasilnya akan tampak di layar komputer.

Perangkat ini langsung dimasukkan ke dalam rektum pasien dan masuk ke dalam melalui usus besar. Jika diperlukan, sedikit jaringan rektum diambil selama tes ini untuk keperluan biopsi.

Pada kebanyakan kasus, kolonoskopi di Singapura memberikan diagnosis yang akurat, sehingga dokter mampu mengobati masalah kolorektal pasien, bahkan tanpa melakukan operasi besar.

Sebelum prosedur kolonoskopi dilakukan, pasien diberi obat penenang. Selanjutnya, kolonoskop akan dimasukkan ke dalam usus pasien dan dengan hati-hati akan memeriksa semua lapisan usus. Setelah pemeriksaan, tabung ditarik dengan lembut. Seluruh prosedur ini dilakukan dalam ruang operasi dan hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Irama jantung dan kadar oksigen pasien terus dipantau selama prosedur kolonoskopi.

Komplikasi yang mungkin terjadi

Beberapa komplikasi yang terkait dengan prosedur kolonoskopi di antaranya:

  • Perdarahan di dubur (jika dokter juga melakukan biopsi)
  • Reaksi alergi (karena obat penenang)
  • kebocoran dinding usus pasien