shutterstock_73365442-mod copyBanyak pasangan kini memilih menunda pernikahan dan akhirnya harus menjadi orang tua saat sudah memasuki usia jauh lebih tua. Selain masalah kesulitan untuk mengandung, meningkatnya resiko keguguran dan ketidaknormalan pada bayi, para orang tua yang berusia lebih tua cenderung berfokus pada karir dan mungkin menjabat posisi penting dalam pekerjaan mereka yang menuntut banyak waktu.

Dengan demikian, sebagai dokter, kami melihat sejumlah ibu berusia lebih tua pada praktek infertilitas kami, yang telah menjalani banyak program untuk menangani masalah kesuburan. Seringkali, kehamilan mereka mengalami beberapa komplikasi, seperti pendarahan, kehamilan ganda dan kondisi seperti diabetes dan hipertensi. Sebagai tambahan, hamil saat usia tidak muda lagi memerlukan pengorbanan yang besar dari tubuh wanita.

Rasa malu

Jacqueline, seorang ibu berusia 42 tahun yang telah menjalani 3 siklus FIV sebelum akhirnya hamil, merasa sangat malu saat ia pergi membeli baju bayi dan ditanya oleh si penjual, “Apakah Anda membeli untuk cucu Anda?” Karena kejadian ini, ia akhirnya memutuskan untuk membeli secara online saja, paling tidak dengan cara ini “Tidak seorang pun akan menatapku aneh,” ujarnya.

Dalam masyarakat kita saat ini, seorang wanita hamil yang berusia lebih tua dari usia ideal akan dipandang tidak bertanggung jawab. Rashidah yang hamil pada usia 41 tahun membuat ketiga putranya sangat senang, dengan anak termudanya berusia 12 tahun.

“Saya membuat diri saya sendiri meminta maaf pada teman-teman dan keluarga karena saya telah hamil dan tidak tahu kalau saya sesubur itu. Namun, saya segera menyingkirkan pikiran itu, saya bangga menjadi wanita yang matang dan seorang ibu lagi. Saya mulai merasa bahkan lebih baik lagi saat menemukan banyak wanita lain yang merencanakan atau sedang hamil pada usia yang terlambat melalui Facebook.” Rashidah berkata pada salah satu kunjungan pemeriksaan kehamilannya. “Jika Anda antusias pada kehadiran bayi Anda dan orang-orang di sekitarmu yang juga sama antusiasnya akan kehadiran kaki-kaki kecil di sekitar rumah, maka jangan khawatir pada pandangan orang lain.”

Prasangka terhadap ibu-ibu muda 

Ada fenomena umum lain di antara ibu-ibu muda. Beberapa wanita memulai keluarga mereka di usia sekitar 25 sampai 28 tahun – dianggap masih muda saat ini. Tapi salah satu pasien, Laila, yang berusia 23 tahun, juga merasa adanya prasangka terhadap ibu-ibu muda. “Saya menemui ibu-ibu yang lebih tua yang menganggap saya seorang orang tua yang buruk karena usia saya. Mereka memperlakukan saya seperti seorang anak kecil,” katanya.

Ibu lain, Sonita Lim, yang berusia 26 tahun dengan suami berusia 35 tahun, melaporkan jika “sebagian besar ibu yang lebih tua menganggap suami saya lebih serius sebagai orang tua dibandingkan saya. Mereka bahkan tidak mengakui saya.” Akan tetapi, para dokter meyakinkan ibu-ibu yang lebih muda jika mereka akan mempunyai masalah kehamilan yang lebih sedikit, dan tubuh wanita beradaptasi paling baik pada kehamilan dan bayi yang sehat pada usia 20-an dibandingkan dengan usia 30-an atau lebih buruk lagi, pada usia 40-an.

Ada pula pandangan dari ibu-ibu yang berusia lebih tua yang menilai para ibu yang lebih muda ini terlalu lelah dan tidak cukup energik dalam merawat bayi mereka, atau mengalihkan peran mengasuh anak pada pembantu sementara mereka mengejar karir.

Mengasuh anak adalah pekerjaan purna waktu

Mengasuh anak memerlukan pengorbanan besar dari sebuah hubungan suami-istri. Maka penting bagi pasangan untuk meluangkan waktu dan mendapatkan waktu yang berkualitas berdua saja. Karena banyak waktu dihabiskan untuk mengatasi ketidaknyamanan fisik setelah episiotomy kehidupan seks juga akan terganggu. Dan juga banyak wanita merasa kurang menarik akibat perubahan bentuk saat hamil. Menyusui juga akan merendahkan hormon estrogen yang membuat vagina kurang licin yang menyebabkan ketidaknyamanan saat berhubungan seks.

Hal-hal tadi menjadi masalah umum bagi hampir semua pasangan ketika mencoba menjalani FIV dan perlu upaya sadar baik pihak suami dan istri untuk mengatasinya. Jika tidak, hubungan suami-istri dapat saja berakhir karena masalah yang berkaitan dengan membesarkan bayi membutuhkan pengorbanan baik secara fisik, mental dan emosional. Clara, seorang ibu dengan dua orang anak, mempunyai masalah besar mengatasi anak perempuannya yang berusia tiga dan lima tahun. Ia telah mengorbankan karirnya untuk merawat anak-anak dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sepanjang minggu. Juga, setiap kali pergi keluar rumah, ia selalu membawa anak-anaknya lengkap dengan ransel berat berisi botol, susu dan popok. Hingga ia putus kontak dengan banyak teman dan kerabat.

Tidak tahan dengan keadaan ini, suatu hari Clara menangis di klinik karena merasa suaminya sibuk dengan pekerjaan dan mereka tidak pernah meluangkan waktu bersama. Mereka selalu beradu argumentasi saat ia ingin suaminya membantu melakukan pekerjaan rumah tangga. Clara merasa hanya ia sendiri yang mengurus anak-anak sementara suaminya saat kembali dari kantor hanya duduk di depan televisi dan menunda mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

Meluangkan waktu bersama

Para pasangan harus melakukan upaya sadar untuk membuat jadwal “kencan mingguan” sehingga pembantu atau kakek dan nenek dapat mengasuh anak. Mereka tidak harus merasa bersalah dan dapat menikmati malam spesial mereka. Bahkan makan malam spesial di rumah, mencuci piring bersama atau menunggu sampai anak-anak pergi tidur untuk berbincang-bincang selama 20 menit dan berbagi perasaan adalah sangat penting untuk menjaga hubungan tetap mesra. Terlebih lagi, memuji pasangan Anda karena membantu menyuapi, mengganti popok dan menghibur bayi, juga akan membantu. Semua orang tua baru perlu mendengar jika apa yang mereka lakukan sangat berarti.