Kenali Penyebab Anak Sulit BelajarJika dalam perkembangannya anak tak bisa menunjukkan prestasi yang maksimal, bisa jadi ada masalah dalam proses belajarnya. Atau jangan-jangan ia mengalami apa yang disebut Learning Difficulties (LD) alias kesulitan belajar.

Kondisi ini banyak dialami oleh anak-anak di sekitar kita. Bukan mereka tak pintar hanya saja kemampuan individualnya yang mengalami gangguan dalam proses belajar. Padahal sebenarnya  mereka memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan di atasnya. Kesulitan ini tidak hanya dilihat di arena pembelajaran tapi berbagai bidang pembelajaran, di antaranya menulis, membaca, menghitung atau juga sulit konsentrasi.

Kesulitan bisa terjadi pada kemampuan membaca yang ditandai dengan bingung membedakan huruf yang mirip, seperti huruf D-B, M-W. Kesulitan menulis misalnya tulisannya jelek sekali sehingga tidak bisa terbaca atau ada huruf yang hilang saat menulis. Sementara untuk menghitung sulit membedakan simbol plus, minus, kali, bagi, juga sulit untuk membedakan sebelum dan sesudah urutan angka.

Indikasi lainnya adalah konsentrasi yang sangat mudah teralihkan saat belajar. Tapi ini tidak murni, memang LD ini terkadang disertai gangguan konsentrasi tapi tidak semuanya, hanya memang sebagian besar demikian.

Identifikasi Sejak Dini

Pada dasarnya LD mulai terlihat pada saat anak masuk SD karena kecerdasan seorang anak diukur dari keberhasilan konsep akademik. Meski demikian, sebelum masuk ke SD pun, orangtua sudah bisa mendeteksinya atau mengidentifikasi risiko tersebut. Terlebih bagi anak yang mungkin punya riwayat keterlambatan perkembangan di salah satu area, misalnya keterlambatan bicara, keterlambatan motorik halus, keterlambatan motorik kasar. Itulah sebabnya orangtua harus peka terhadap proses tumbuh kembang buah hatinya.

Bila memang ternyata ada masalah di salah satu area perkembangan, misalnya bicara atau motoriknya, perhatikan bagaimana dia mempelajari keterampilan-keterampilan awal pra akademiknya itu sendiri. Apakah memang keterampilan motorik halusnya yang terlambat misalnya membuat dia tidak mengenali bentuk, mengenali warna, sebelum dia belajar membaca. Atau anak dari TK A atau TK B sudah terlihat tidak bisa duduk dengan tenang, selalu berkeliling di kelas, lari sana sini, itu indikasi awal anak mengalami kesulitan belajar.

Dari aspek akademik, kesulitan belajar sangat erat dengan gaya belajar si anak secara individual. Misalnya ia mengalami keterlambatan dalam hal bahasa, maka yang paling tepat metode belajarnya adalah dengan visual atau gambar. Karena bila dipaksakan mengikuti metode belajar yang biasa seperti anak-anak normal lainnya ia akan sulit memahami konsepnya, alhasil karena ketidakpahaman inilah yang membuat prestasinya anjlok karena secara pengetahuan tidak bertambah. Jadi sesuaikan gaya belajar dengan area keterlambatan yang dialaminya.

Bila orangtua peka, akan mudah mengidentifikasi kondisi anaknya sendiri karena orangtualah yang paling memahami tumbuh kembang anak. Jika memang membutuhkan bantuan psikolog, tugasnya hanya membantu mengidentifikasi letak masalahnya di mana, kesulitannya di area apa, dan merekomendasikan terapi serta gaya belajar yang tepat seperti apa. Setelah itu kembali pada orangtua yang harus menindaklanjuti segala rekomendasi yang disampaikan, mengajari anak dengan cara yang tepat, bantu anak dalam memahami kemampuan sehari-hari di luar konsep akademik.

Masalahnya, sistem pendidikan saat ini masih belum maksimal dalam mengakomodir kebutuhan anak dengan kesulitan belajar. Selama tidak mengandalkan pada satu metode belajar saja sebenarnya sistem pendidikan kita bisa mengakomodir kebutuhan anak dengan kesulitan belajar, misalnya sekolah selalu menggunakan metode bicara atau auditory process, jelas anak dengan keterlambatan di area ini akan sulit memahami pelajaran yang diberikan. Guru harus menggunakan berbagai saluran informasi yang sesuai dengan kondisi anak, bila harus dengan visual ya jangan paksakan anak dengan auditory, gunakan gambar karena mereka lemah di bagian auditory, atau sebaliknya.

Tidak hanya disesuaikan denggan kondisi dan kemampuan individual anak, pola belajarnya juga harus terstruktur, misalnya anak diharapkan mampu mengerjakan soal 1-5, jika berhasil lanjutkan lagi 5-10, jadi pola belajar yang terstruktur dan bertahap.

Hanya saja, ketidaktahuan orangtua membuat kesulitan belajar tidak dapat dideteksi. Padahal, kesulitan belajar terkait proses tumbuh kembang anak. Orangtua seringkali terlena melihat si anak yang sebenarnya tampak cerdas, diterangkan sepertinya bisa, padahal bisa jadi anak mengalami kesulitan dalam mengolah konsep.

Problem lainnya adalah orangtua biasanya tidak sabar melakukan pendekatan secara individual pada anak sehingga ia lebih memilih  menggunakan metode yang sama dengan anak-anak lain.

Dampak lebih lanjut bila dibiarkan akan semakin jauh kesenjangan antara kecerdasan dan prestasi belajarnya. Kesenjangan itu akan semakin besar seiiring pertambahan usianya. Bila melihat seorang anak yang pada dasarnya terlahir dalam kondisi yang cerdas tapi prestasi akademiknya rendah tidak seperti yang diharapkan, bisa dipastikan ia mengalami gangguan kesulitan belajar.

Jika sudah menunjukkan kemajuan, jangan lantas berpuas diri. Anak harus tetap dipantau. Misalnya anak lambat bicara lalu dia sudah pandai bicara orangtua lengah, satu saat bukan tidak mungkin dia akan mengalami kemunduran lagi. Jadi pantau terus jangan pernah lengah, terlebih untuk anak-anak yang memang memiliki risiko mengalami kesulitan belajar.