Stress yang mengarah pada depresi dapat menimpa siapa saja, bahkan anak-anak dan remaja. Tetapi data menunjukkan bahwa perempuan usia produktif memiliki risiko mengalami depresi lebih besar dibandingkan pria.

Depresi adalah suatu kondisi gangguan mental serius yang dapat mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan penderitanya. Penderita depresi akah mengalami gangguan pada kehidupan sosial, hubungan dengan pasangan, dan karirnya. Menurut National Mental Health Association di Amerika Serikat, sekitar satu dari delapan perempuan akan mengalami depresi setidaknya sekali seumur hidupnya.

Merasa sedih berkepanjangan, apatis, putus asa, merasa bersalah dan tidak ada harapan, kelelahan tanpa sebab, tidak nafsu makan, bahkan sampai pada keinginan bunuh diri adalah beberap gejala depresi yang harud diwaspasi. Tetapi penderita depresi perempuan kadangkala menunjukkan gejala khusus, misalnya tidur berlama-lama, disertai  makan tanpa henti yang pada akhirnya menyebabkan berat badan naik tidak terkendali. Perempuan umumnya melampiaskan perasaan putus asa melalui makanan, teman atau hubungan cinta, sementara laki-laki biasanya memilih alkohol, olahraga dan seks.

Banyak faktor yang menyebabkan seorang perempuan rentan mengalami depresi, mulai dari faktor hormonal, tekanan sosial, dan bagaimana cara perempuan menghadapi stres.  Faktor biologis dan hormonal misalnya saat premenstruasi, kehamilan, melahirkan dan menopause di mana merupakan periode seorang perempuan rentan mengalami depresi.

Faktor psikologis juga berperan. Perempuan biasanya terlalu banyak menonjolkan perasaan dan  mengedepankan pikiran negatif. Perempuan cenderung memendam perasaan saat depresi, atau menangis untuk menyalurkan emosi. Tindakan ini dipercaya akan memperburuk depresi.

Penyebab lain adalah, perempuan lebih mudah stress, baik di tempat kerja maupun di keluarga. Hal ini diperkuat dengan respon tubuh perempuan dalam menghadapi stres yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan memproduksi lebih banyak hormon stres dibandingkan laki-laki. Selain itu, adanya hormon progesteron pada perempuan akan menghambat sistem hormon stres untuk menonaktifkan diri, tidak seperti pada laki-laki.

Satu lagi penyebab perempuan rentan mengalami depresi adalah terkait dengan body image.  Perempuan sangat mudah terganggu dengan isu bentuk atau tampilan tubuh. Hal ini sudah dirasakan sejak masa remaja. Faktor sosial seperti hubungan dengan pasangan, keluarga dan kerabat yang tidak harmonis juga bisa menjadi pemicu depresi pada perempuan.

Pengobatan depresi pada perempuan sama dengan manajemen depresi secara umum yaitu dilakukan dengan pemberian obat-obat antidepresan maupun psikoterapi. Tetapi ada beberapa terapi khusus yang dipertimbangkan untuk perempuan yang mengalami depresi. Perempuan juga biasanya memerlukan tambahan pengobatan untuk kondisi lain seperti kecemasan dan gangguan makan.