kankermulut-300x300Menderita kanker sudah cukup buruk, pikir Ibu Mariati Ismail, 36, ketika ia mempunyai tumor kanker selebar 4 cm yang diambil dari dalam pipi kanannya pada bulan April. Ia tidak menyadari bahwa masalahnya belum berakhir. Perawatan radiasi yang diikuti untuk membunuh sisa sel kanker membuat mulutnya kering. Perawatan ini juga melumpuhkan sistem kekebalan tubuhnya, jadi ia mengidap infeksi jamur candida. Ulkus yang menyakitkan tumbuh dalam mulutnya. “Ulkus ini membuat sulit makan dan menyakitkan,” kata administrator perkantoran, yang sedang dalam cuti medis. Beratnya turun dari 45kg menjadi 39kg. Satu dari tiga pasien kanker mulut harus mengalami masalah mulut semacam ini, kata Penelitian Kanker Inggris. Mereka memicu infeksi karena jaringan mulut pasien memerlukan waktu yang lebih lama untuk sembuh. Penyebabnya adalah radioterapi, perawatan dengan beberapa efek samping yang tidak menyenangkan, kata Dr Victor Fan, konsultan senior bedah mulut dan maksilofasial dari National University Hospital. Tanpa operasi atau radioterapi, pasien cenderung meninggal. Tanpa perawatan, sekitar 50 persen pasien akan selamat dari kanker. Di Singapura, sekitar 100 sampai 200 kasus baru kanker mulut terdiagnosis tiap tahun, kata Dr Fan. Ibu Mariati, yang mengalami 30 sesi radioterapi pada bulan Juni, memerlukan antibiotik untuk melawan infeksi. Ulkusnya telah hilang tetapi ia masih menderita mulut kering. Disebut xerostomia, kondisi yang dicirikan dengan aliran saliva yang rendah. Hal ini dapat mengakibatkan bahaya dalam bentuk infeksi gigi berlubang dan mulut yang serius, kata Dr Fan. “Saliva memiliki suatu langkah pembersihan alami” katanya. “Kekurangan saliva digabungkan dengan higinitas mulut yang rendah dapat memicu infeksi mulut, yang dapat mematikan bagi penderita kanker mulut karena radioterapi meredam sistem kekebalan.” Beliau memiliki pasien yang gusinya terinfeksi berlanjut pada cacatnya beberapa organ dalam beberapa minggu meskipun antibiotiknya kuat. “Infeksi mulut dapat berkembang sangat cepat pada pasien kanker mulut yang telah menjalani radioterapi,” katanya. “Ketika mereka mencari bantuan pengobatan untuk demam atau rasa sakit, infeksi mungkin telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.” Para pasien harus sangat teliti menjaga kebersihan mulut, bahkan setelah mereka bersih dari kanker, tambahnya. Sebagai tambahan menyikat dan membersihkan gigi dengan benang secara teratur, mereka harus melakukan pemeriksaan gigi dengan rutin. Untuk mencegah gigi berlubang, seseorang juga dapat menggunakan gel fluoride di gigi menggunakan nampan mulut dan menggunakan pencuci mulut secara teratur. Tetapi beberapa pencuci mulut komersil tidak sesuai bagi pasien tertentu. “Radioterapi dapat menyebabkan mulut menjadi sangat perih, jadi bahan kimia dalam beberapa pencuci mulut sangat menyakitkan bagi mereka, “ jelas Dr Fan. Sebaliknya, mereka perlu memilih pencuci mulut yang mengandung enzim alami yang membantu mencerna makanan yang terperangkap dalam mulut. Tersedia di apotek rumah sakit, pencuci mulut ini juga mengatasi xerostomia dengan melembabkan mulut. Menggunakan gel pelembab di bibir dan gusi adalah penjagaan lebih lanjut melawan infeksi. Setiap orang harus minum banyak air sepanjang hari, kata Dr Fan. Meskipun mulut kering tidak mengancaman nyawa, sisi negatifnya adalah mempengaruhi pucuk perasa. Ibu Mariati belum mendapatkan kembali indera perasanya. “Telah beberapa bulan sejak radioterapi dan tetap saya tidak dapat merasakan apapun. Saya diberitahu bahwa mungkin akan dibutuhkan beberapa tahun agar indera perasa saya kembali normal,” katanya, dengan tambahan bahwa pada awalnya ia sangat kesal. Tantangan bagi penderita kanker mulut yang selamat adalah untuk menanggulangi kehilangan pengecap dan makan lebih lahap sehingga mereka mendapatkan berat badan normal dan sehat, kata Dr Fan. Ibu Mariati, yang lajang,sekarang telah belajar untuk mengelola diet yang lebih baik. “Saya memaksa diri saya untuk menghabiskan makanan di piring meskipun semua terasa hambar,” katanya. “Saya juga minum susu sekali sehari untuk melengkapi makanan saya.” chpoon@sph.com.sg image004 Dr Victor Fan Konsultan Senior Ahli Bedah Mulut & Maksillofasial MB BCH; BAO (Inggris), BDS (Singapurae), FDSRCS (Inggris), FRCS (Ing), FRCS (OMFS) Intercollegiate Board, FAMS Dr Victor Fan adalah salah satu dari dua ahli bedah Mulut dan Maksilofasial yang terkualifikasi secara medis di Singapura. Prakteknya saat ini di Gleneagles Medical Centre meliputi operasi implant gigi, operasi gigi, dan operasi maksilofasial utuma yang termasuk operasi dan rekonstruksi kanker mulut, operasi kecantikan wajah dan ortognatik. www.orofacialsurgery.com.sg