Upaya SingHARI TOILET SEDUNIAapura membuahkan hasil 

Beberapa bulan lalu, Singapura menempatkan resolusi pertama kalinya sebelum Sidang Umum PBB dari ke-193 anggotanya. Bertemakan “Sanitasi untuk semua”, Sidang ini diadaptasi oleh konsensus dan PBB menetapkan 19 November sebagai Hari Toilet Dunia. Sidang tersebut juga mendorong para anggotanya agar menyatakan untuk mendorong perubahan kebiasaan dan menerapkan kebijakan meningkatkan akses menuju sanitasi di antara defekasi (buang air besar) yang buruk dan yang berakhir di ruang terbuka, yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat 

Ketika stasium pembuangan night-soil terakhir di Tampines ditutup pada 24 Januari 1987, dan 78 pekerja night- soil diberhentikan dan dipekerjakan di tempat lain, hal ini menandai berakhirnya sistem yang berusia seabad ini.

Menteri Luar Negeri/Foreign Affairs (MFA), dan Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air/ Environment and Water Resources (MEWR) – yang bertanggung jawab atas resolusi tersebut mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama, “Singapura berharap bahwa semua negara akan menggunakan Hari Toilet Dunia sebagai sebuah platform/serambi untuk memberi perhatian yang layak terhadap tantangan sanitasi dan toilet global.” Vivian Balakrishnan yang mengepalai MEWR menambahkan, “Singapura adalah pelaksana pertama konsep ‘Sanitasi untuk Semua’. Hal ini membuat perbedaan besar bagi kesehatan dan kebersihan masyarakat.”

Sistem penampungan night-soil

Pada tahun 1987 di mana sistem penampungan night-soil (kotoran manusia) yang berusia seabad itu dihapuskan dan diganti dengan alternatif sistem sanitasi di tempat. Seperti diungkapkan oleh Brenda Yeoh di dalam buku, Contesting Space in Colonial Singapore, “Sampai dengan tahun 1880an, pemindahan dan pembuangan night-soil dari kota Singapura seluruhnya berada di tangan sindikat Tiongkok yang mengorganisir pengumpulan night-soil dalam penampungan dan mereka memindahkannya untuk dijual ke taman dan perkebunan di daerah pinggir kota.” Para tukang kebun dan pemilik perkebunan yang menggunakan night-soil sebagai pupuk biasanya membayar untuk memindahkan night-soil dari tiap rumah tiap tiga hari sekali. Tetapi karena pertumbuhan populasi, “nilai night-soil telah menyusut sampai sedemikian rupa sehingga posisi rumah tangga dan pengumpul mejadi terbalik; dan yang sebelumnya harus membayar pengambilan night- soil, kemudian harus membayar untuk itu,” tulis Yeoh. Untuk itu, sistem penampungan night-soil diperkenalkan pada tahun 1890an oleh otoritas kotamadya dan hal ini segera menjadi metode yang paling umum pembuangan limbah di Singapura. Sedangkan beberapa night-soil terus digunakan sebagai pupuk, limbah dibuang dalam hujan atau dipendam. Dua dekade kemudian, pada tahun 1910, skema pembuangan pertama di Singapura telah dimulai. “Sistem kemudian hanya terdiri dari jaringan saluran pembuangan dan tiga stasiun pemompa dan pabrik penyaring aliran untuk melayani daerah pusat Singapura, “ kata PUB – badan air nasional Singapura. Meskipun tahun 1930, sistem pembuangan limbah yang luas dibangun untuk melayani hampir 100.000; lebih dari 150.000 orang masih menggunakan sistem pembuangan night-soil. Setelah kemerdekaan, program intensif pengembangan pembuangan limbah di seluruh pulau yang diprakarsai pada tahun 1960 untuk memenuhi bertambahnya permintaan dan program industrialisasi.

Dihapuskan

Kemudian, pada tahun 1984, program penghapusan sistem penampungan night-soil dimulai. Stasiun pembuangan night-soil Toh Tuck adalah yang pertama tutup. Dalam tiga tahun berikutnya, 15.369 penampungan night-soil dihapuskan; dan pada tahun 1987, hanya wilayah Lavender Street, Bugis Street, Tampines Road dan Lorong Lew Lian yang dilayani oleh sistem ini. Pada 24 Januari 1987, stasiun pembuangan terakhir di Lorong Halus di Tampines telah ditutup dan 78 pekerja night-soil diberhentikan dan dipekerjakan di tempat lain, ini menandai berakhirnya sistem yang berusia seabad. Semua rumah di Singapura dilengkapi baik dengan WC/kakus yang disiram dengan air atau toilet dengan septic tank dua- ruang yang disebut R2. Pada 19 November, MEWR, Departemen Lingkungan Nasional/National Environment Agency (NEA) dan PUB memperingati Hari Toilet Dunia di Singapura dengan Asosiasi Kamar Kecil di Singapura, Organisasi Toilet Dunia dan Lien Aid.

Pendapat PBB

Dari tujuh milyar orang di dunia, enam miliar mempunyai telepon seluler. Namun, hanya 4,5 miliar yang mempunyai akses ke toilet atau kakus – artinya bahwa 2,5 juta orang, sebagian besar di wilayah pedalaman, tidak mempunyai sanitasi yang layak. Terlebih lagi, 1,1 miliar orang masih buang air di ruang terbuka. Negara-negara yang sebagian besar mempraktikkan defekasi di ruang terbuka adalah negara yang sama dengan angka tertinggi atas kematian anak- anak di bawah lima tahun, kekurangan nutrisi tingkat tinggi dan kemiskinan, dan kesenjangan kekayaan yang besar.

Cara kerjanya

Sistem penampungan night- soil dilakukan secara manual dan bergantung dengan kedekatan kontak manusia dengan limbah tersebut. Para pengumpul biasanya tiba di masing-masing rumah tangga dengan ember kosong, dipanggul di bahu menggunakan tongkat, untuk ditukar dengan yang terisi. Ember-ember ini diambil dari para pengumpul ke pusat pengumpulan, karena pengumpulan umumnya dilakukan di malam hari dan ember yang terisi ditutupi dengan tanah untuk mengurangi baunya, karena itulah dinamai “night-soil”.