buah hati copyMenyoal kasus kekerasan seksual yang dialami murid Taman Kanak-kanak beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah
internasional yang terletak di Jakarta, masih menyisakan perasaan miris dan mengejutkan.

Tentunya kasus-kasus kekerasan seksual berdampak pada psikologis anak dan meninggalkan trauma yang kemungkinan sulit disembuhkan atau membutuhkan waktu untuk pemulihan kondisi kejiwaan bagi anak.

Kasus tersebut mungkin bisa menjadi pembelajaran bagi orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan. Kasus di JIS bukan kasus pertama kekerasaan seksual terhadap anak-anak. Ini menunjukkan bahwa anak merupakan mangsa empuk bagi pelaku karena mudah diintimidasi.

Bukan tanpa alasan, dampak psikologis pada korban akan sangat berpengaruh pada kehidupannya. Sebagian korban pelecehan seksual biasanya cenderung tertutup, memiliki energi negatif sehingga mudah marah dan lebih sensitif.

Pada umumnya pelecehan fisik akan membekas ketimbang pelecehan verbal. Karena itu, dampak psikologis yang dirasakan sebagian anak korban pelecehan seksual, juga bisa berpengaruh ketika sang anak tumbuh dewasa.

Jika trauma tidak dihilangkan pada anak secara dini, saat dewasa mereka cenderung bermasalah terkait dengan hubungan dengan lawan jenis. Ia cenderung berpikir negatif terhadap lawan jenis. Karena pelecehan yang dialami menjadi pengalaman seks pertama bagi anak.

Sebagian korban pelecehan seksual perlu penanganan yang serius dari orang tua, perlu penanaman nilai religius dan perhatian yang cukup. Sebagian korban pelecehan seksual juga cenderung akan memiliki kematangan seksual lebih dini dibanding usianya.

Hal ini juga menjadi alasan penting, mengapa sebagian anak korban pelecehan seksual perlu penanganan serius. Lalu bagaimana tips agar buah hati terhindar dari pelecehan seksual? Mari kita simak tips berikut :

  • Tidak ada rahasia. Ajarkan si kecil untuk selalu terbuka dalam menyampaikan perasaannya. Buat dia selalu bercerita perasaannya baik saat senang, sedih, takut dan gembira. Hal ini membuatnya tidak akan merahasiakan hal sekecil apapun dari Anda, termasuk perlakuan yang diterimanya dari orang sekelilingnya. Dengan begitu Anda tahu siapa saja yang ia temui dan dekat dengannya.
  • Jangan memakaikan aksesori yang terdapat namanya. Hindari memakaikan aksesori yang terdapat nama buah hati saat ia bermain di taman atau tempat bermain, dan Anda tidak memperhatikannya dengan seksama. Bisa saja ada orang yang menghampiri dan menyebutkan namanya, kemudian berkata bahwa ia sedang dicari Anda. Buah hati pun bisa langsung menurutinya karena merasa orang asing tersebut tahu namanya.
  • Ajarkan fungsi dan nama dari tiap organ tubuhnya. Ajarkan sedini mungkin fungsi dan nama dari setiap organ tubuhnya termasuk organ vitalnya. Tidak masalah jika ia menyebut vagina, penis atau payudara, karena memang itulah namanya. Hindari menggunakan istilah untuk menyebut organ vitalnya, hal itu malah bisa membuatnya bingung. Katakan pada buah hati organ intim yang mereka miliki harus dijaga baik-baik dan tidak boleh dipegang sembarang orang dan jika ada yang memegangnya ajarkan pada si kecil untuk berteriak dan lari sekencangkencangnya.
  • Kondisikan situasi. Jika buah hati sudah cukup umur dan bisa mengerti buatlah cerita dengan awalan pertanyaan “bagaimana jika”. Misalnya, “bagaimana jika ada orang dewasa yang kamu tidak kenal memberikan permen”. Jika jawaban si kecil menerima permen dan akan bermain bersamanya segera katakan padanya bahwa hal itu berbahaya.

Buatlah buah hati mengerti bahwa situasi tersebut membahayakannya, dengan menyebutkan kemungkinan yang ada seperti bisa saja ia diculik atau disakiti dengan orang asing tersebut.

Nah Bunda, selamat mencoba ya, dan pastikan komunikasi orang tua dan buah hati tetap terjalin.