Diperkirakan saat ini 20-30% penduduk di negara maju setiap hari mengonsumsi suplemen vitamin. Umumnya, mereka mengasup vitamin berdasarkan kebutuhan untuk mencegah defisiensi. Tidak mengherankan jika di negara maju, defisiensi vitamin dan mineral sudah hampir jarang ditemukan.

Cara paling ideal untuk memenuhi kebutuhkan nutrisi sebenarnya dari makanan sehari-hari. Makanan tidak hanya memasok kebutuhan vitamin dan mineral, tetapi juga memberi kita serat dan sejumlah senyawa sehat lainnya seperti antioksidan.

Vitamin tidak diproduksi oleh tubuh, kecuali vitamin K, sehingga kebutuhan vitamin harus dikonsumsi dari bahan makanan dalam jumlah tertentu. Vitamin sendiri dibagi dua yakni vitamin yang larut lemak (A, D, E, K) dan vitamin yang larut air (B dan C). Tetapi memang kadangkala, dengan diet terbaik sekalipun, kita sering gagal memenuhi semua kebutuhan vitamin.

Untuk mensiasati kekurangan vitamin dan mineral, maka jalan keluar paling mudah adalah mengonsumsi multivitamin harian yang aman, efektif, dan bisa memperbaiki kekurangan nutrisi. Tetapi harus diingat bahwa kata “suplemen” berarti sesuatu yang ditambahkan. Dalam hal ini, kita “menambahkan” pada  diet sehat dasar dan gaya hidup, untuk terapi atau mengobati kondisi medis tertentu.

Suplemen sendiri tidak akan selalu menyembuhkan atau mengobati masalah kesehatan. Harus diingat pula bahwa ketika dikonsumsi dalam dosis tinggi, suplemen dapat membawa dampak buruk bagi tubuh.

 Apakah dosis besar bermanfaat?

 Mengingat pentingnya peran vitamin dan mineral, maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah dosis besar semakin bermanfaat? Kebutuhan vitamin dalam sehari sebenernya sangat rendah. Hati-hati mengonsumsi vitamin dosis tinggi karena kemungkinan menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan. Berikut aturan mengonsumsi multivitamin:

  • Hindari suplemen yang menyediakan lebih dari 100% dari kebutuhan harian vitamin atau mineral. Pemakaian multivitamin yang aman adalah sekitar 60-90 mg per hari.
  • Penggunaan multivitamin dosis tinggi untuk jangka waktu lama juga perlu dilakukan dengan hati-hati terutama untuk vitamin larut lemak. Misalnya, vitamin A. Dosis aman untuk vitamin A adalah 10.000 IU/hari. Berbeda dengan bentuk lain vitamin A seperti betakarotin atau karotinoid yang bisa dikonsumsi dengan dosis sampai 30 mg per hari, bermanfaat mencegah  kerusakan jaringan akibat radikal bebas, sehingga dapat mencegah penyakit seperti kanker dan penyakit kardiovaskular.  Untuk vitamin A (retinol), batas tertinggi tidak lebih dari 3,000-3,500 Internasional Unit (IU).
  • Vitamin C yang merupakan antioksidan, banyak dikonsumsi oleh masyarakat dalam bentuk suplemen. Banyak kesalahan dalam konsumsi vitamin C di mana dosis tinggi diyakini dapat mencegah berbagai jenis penyakit, terutama influenza. Tetapi faktanya, sebuah analisis sistematis tidak mendukung keyakinan ini. Mega dosis vitamin C tidak dianjurkan karena menyebabkan efek samping yang berbahaya.
  • Vitamin D, yang sumbernya melimpah dalam sinar matahari, dianjurkan untuk kesehatan tulang. Suplemen vitamin D dianjurkan untuk pencegahan osteoporosis, namun pada sebagain orang, paparan sinar matahari barangkali lebih efektif daripada suplemen.
  • Mengingat ada banyak sekali jenis vitamin maka tidak mungkin minum semua jenis vitamin dan mineral secara terpisah. Maka solusinya adalah dengan mengonsumsi suplemen multivitamin dengan dosis rendah.
  • Pria dan perempuan pasca menopause harus memilih multivitamin dengan kandungan zat besi 50% atau kurang dari kebutuhan harian.
  • Jangan berharap menemukan 100% kebutuhan harian untuk kalsium atau magnesium dalam multivitamin. Karena akan menghasilkan ukuran pil yang sangat besar.