gameOrangtua mana yang tidak pusing jika anaknya sibuk main games setiap saat. Meskipun awalnya bermain games itu untuk hiburan, kenyataannya bisa fatal. Anak justru makin terikat dengan games, dan akhirnya kecanduan.

Psikolog pendidikan, Ganjar Ramadhan, M.Psi mengatakan, definisi kecanduan secara umum adalah segala sesuatu yang melewati batas. Anak disebut kecanduan games jika sudah mengganggu konsentrasi, tidak dapat melakukan aktivitas lain, dan prestasi akademiknya menurun.

Games yang bisa menyebabkan kecanduan biasanya yang bersifat kompetitif, berkelanjutan,  petualangan, dan ada level berikutnya yang memacu anak untuk terus bermain. Menurutnya ada tiga kesalahan yang dilakukan orangtua sehingga anak menjadi kecanduan games. Pertama melakukan pembiaran yang membuat anak makin kecanduan hingga tak ada lagi kegiatan yang dilakukan selain main games.

Kedua, orangtua melakukan pembiaran ketika anaknya mulai bermain games yang berisiko seperti games yang menyajikan agresifitas atau mengajarkan kekerasan dan games yang mengandung unsur pornografi.

“Anak akan belajar dari apa yang dia lihat dan dilakukan oleh orang lain, dan games menjadi salah satu media pembelajaran. Apapun yang disajikan lewat games dan tayangan lainnya akan sangat mudah ditiru oleh anak, karena dia merasa itulah kebenaran yang dilakukan oleh ‘gurunya’ yakni games. Bisa dibayangkan apa jadinya bila ini dilakukan terus menerus? Jadi ada dua pembiaran yang tidak boleh dilakukan orangtua yaitu pembiaran atas manajemen waktu si anak dan pembiaran atas konten games itu sendiri,’’ kata Ganjar mengingatkan.

Lima Langkah Penanganan

Pada usia berapapun, anak rentan kecanduan games. Apalagi, kalau orangtua cenderung membiarkan dan tidak melakukan tindakan terhadap perilaku tersebut. Orangtua yang sibuk bekerja tak punya banyak waktu mengawasi anaknya, cenderung memberikan semua yang diinginkan anak dan si anak tidak banyak

aktivitas di rumah atau di sekolah. Begitu juga pada anak tunggal yang kesepian, biasanya sangat rentan mengalami kecanduan games, karena dia akan bergantung pada gadget atau fasilitas yang dimiliki untuk menghabiskan waktu luangnya.

Kondisi ini jelas sangat merugikan, karena itu harus segera diatasi, “Cara yang paling efektif mencegah kecanduan adalah orangtua jangan pernah memberikan gadget atau konsol games tanpa kesepakatan dengan anak. Kesepakatan itu misalnya kapan dia boleh main, berapa lama durasinya, jika melanggar apa hukumannya,” saran Ganjar.

“Seorang anak tidak akan mampu melakukan  sesuatu bila tokoh otoritasnya, orangtua atau juga pengasuhnya melarang, memberikan contoh yang baik, membuat kesepakatan, berbuat adil terhadapnya dengan kasih sayang. Selama ada kesepakatan dan contoh yang baik di rumah dalam hal membagi waktu antara belajar, bekerja dan bermain dengan gadget, adalah langkah yang tepat menangkal  kecanduan games.”

Jika anak sudah kecanduan, orangtua jangan putus asa. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Pertama, cari tahu mengapa anak begitu  inginnya bermain games. Apakah memang di rumah tak ada pilihan lain yang bisa dilakukan anak kecuali main games, sehingga anak terbiasa menghabiskan waktu luangnya untuk main games.

Kedua, bicaralah secara terbuka dengan anak. Jika sudah membuat kesepakatan, lakukan kesepakatan itu, jika belum buatlah, jangan ditunda.

Ketiga, jangan bersikap berlebihan dengan mengambil gadget misalnya, apalagi bila ternyata kecanduan games lebih disebabkan faktor ling kungan, di dalam rumah ataupun lingkungan sekitar pertemanan si anak. Dalam hal ini orangtua tidak bisa serta merta menjatuhkan kesalahan hanya pada si anak.

Keempat, jika sudah membuat kesepakatan sebelumnya dan si anak memang melanggar, orangtua harus tega menghukumnya sesuai dengan kesepakatan itu. Hal ini menunjukkan pada anak untuk belajar  konsisten dan bertanggungjawab atas perbuatannya.

Kelima, orangtua harus memberikan pilihan kegiatan lain yang bisa dilakukan si anak. Jika anak sudah remaja, berikan pemahaman bahwa banyak hal yang bisa dia lakukan misalnya bermain musik, olahraga, atau kegiatan lain yang bisa mengasah bakat, minat, dan hobinya.

Bantu anak untuk mengatur manajemen waktunya. Tindakan lain yang mungkin bisa dilakukan adalah memindahkan komputer ke ruang keluarga agar bisa selalu dipantau penggunaannya, jangan berikan fasilitas elektronik seperti televisi, komputer, dan perangkat games di kamar anak sehingga dia bebas menggunakan setiap saat tanpa pengawasan.

Hal lain yang bisa dilakukan orangtua manakala anaknya sudah keranjingan games namun punya minat di bidang IT, arahkan anak untuk melakukan hal positif di balik minatnya itu. Misalnya melanjutkan studi ke program mobile application, software application, animasi atau bahkan menciptakan games sendiri. “Kalau memang minatnya mengeksplorasi games lebih jauh kenapa tidak menjadikan itu sebagai pilihan profesi yang digeluti,” ujar Ganjar.

Disusun oleh Healthy Times Indonesia, berkonsultasi
dengan Ganjar Ramadhan, M.Psi,
seorang psikolog pendidikan.