DietSebuah buku, ”Why Diets Fail” (Mengapa diet gagal), oleh Nicole Avena dan John Talbott, mengungkapkan bahwa gula bisa membuat ketagihan. Selain itu mereka pun membuat program “delapan langkah ilmiah” untuk menghentikan hasrat dan menurunkan berat badan secara permanen. Hal ini tentunya harus menjadi sorotan ditambah lagi dengan munculnya pertanyaan kontroversial “Mengapa dua-per-tiga pelaku diet berakhir lebih gemuk dan lebih tidak sehat dibandingkan ketika mereka memulai diet?” Pertanyaan ini sebenarnya didasari dari hasil penelitian yang menunjukkan sebanyak 95% rencana diet gagal karena alasan selain makanan. Berikut ini pembahasan yang mungkin bisa memberikan informasi baru seputar diet dan kesehatan bagi Anda:

Kalori yang Dikonsumsi

Kesadaran diri adalah kunci di sini. Ketika Anda memilih bahan makanan di supermarket, pastikan untuk memperhatikan kandungan dalam bahan tersebut, salah satunya kalori. Selain itu, pemilihan makanan mengandung susu dan memasak sendiri bisa membantu menjaga kandungan kalori dalam makanan yang Anda dikonsumsi.

Daging dengan banyak serat di dalamnya sangat direkomendasikan, karena ini membantu Anda merasa kenyang lebih lama sehingga mencegah makan berlebihan.

Melebih-lebihkan Pembakaran Kalori

Sebagian besar orang mempunyai kecenderungan berolahraga berlebihan untuk membakar kalori. Kenyataannya, hal ini bisa membahayakan kesehatan dan menurunkan semangat. Misalnya saja, ketika Anda berolahraga berlebihan untuk membakar kalori namun berat badan tidak kunjung turun, tentunya bisa mengecewakan diri sendiri.

Melakukan aktivitas berlebihan untuk tujuan memangkas kalori pun bisa membuat Anda merasa lelah. Sampai akhirnya, sulit menemukan waktu dan energi untuk kembali berolahraga. Hal inilah yang paling berpengaruh dalam gagalnya program diet.

Pastikan Anda mencatat jumlah kalori yang harus dibakar secara tepat. Bisa mencatatnya dalam buku harian atau menggunakan perangkat seperti pedometer.

Waktu Tidur yang Tidak Cukup

Kurang tidur bisa memicu beberapa penyakit, di antaranya; jantung, ginjal, diabetes, stroke, depresi dan obesitas. Kurangnya waktu tidur juga bisa mempengaruhi keseimbangan ghrelin (hormon yang membuat Anda merasa lapar serta mempengaruhi metabolism tubuh). Ketika waktu tidur Anda mencukupi, yaitu 7-8 jam perhari, maka kesempatan program diet berhasil pun lebih tinggi. Pastikan juga Anda tidak mengonsumsi makanan apapun dua jam sebelum tidur.

Penentuan Waktu Makan yang Buruk

Sebagian besar orang yang sedang diet berpikir bahwa makan lebih sedikit adalah solusinya. Mereka seringkali tidak mengonsumsi makanan apapun dalam waktu lima sampai enam jam. Padahal kenyataannya, Anda membutuhkan aliran glukosa yang stabil sepanjang hari untuk mencegah metabolisme melambat (menjadi lesu).

Anda bisa membagi jadwal makan menjadi lima atau enam kali dalam sehari. Tentunya tidak semuanya makan berat, tetapi selingi dengan camilan sehat. Untuk sarapan misalnya, waktu yang tepat satu jam setelah bangun, lalu diiringi camilan sehat setiap tiga jam.

Masalah Komitmen

Banyak rencana diet gagal karena banyak orang mempunyai harapan yang tidak realistis terhadap diet, mulai dari mencari hasil yang instan sampai mengambil jalan berbagai diet ekstrim. Ketika hal ini tidak berhasil, mereka menyerah terhadap seluruh rencana diet mereka. Hindari hal tersebut, dan cobalah untuk membuat perubahan bertahap serta berkelanjutan, tentunya dengan komitmen yang kuat.

Jadi apakah yang berhasil?

Para peneliti saat ini mengatakan bahwa rencana diet terbaik adalah untuk mengalahkan keinginan mengonsumsi makanan manis. Caranya dengan menghapus asupan gula paling tidak selama satu bulan. Ketika keinginan untuk mengonsumsi makanan manis muncul, maka ingatlah kembali tujuan jangka panjang Anda dalam mencapai hidup lebih sehat.

Mengonsumsi makanan sehat seperti kacang-kacangan dan buah-buahan bisa membantu program diet. Selain itu, yang paling penting dalam kesuksesan program diet adalah olahraga rutin. Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas kardiovaskuler dapat memperbaiki daerah otak yang bisa mempengaruhi ketergantungan makanan seseorang.