Going Green“Walaupun sudah banyak yang mulai menjalani gaya hidup ramah lingkungan, namun belum semua mengetahui sejarah gaya hidup ini. Apa, kapan, mengapa,dan di mana? Bagi Anda yang belum mengenal gaya hidup ramah lingkungan,kini sudah saatnya untuk ketahui lebih dalam dan semakin mencintai lagi gaya hidup ini.”

Going Green dikenal juga dengan gaya hidup ramah lingkungan. Satu gerakan yang hampir 10 tahun belakangan ini popular di Indonesia. Namun apa sebenarnya yang disebut gaya hidup ramah lingkungan ini? Apakah semua yang menjalani gaya hidup ini mengetahui makna dibalik kata “Going Green” atau hanya menjalankan karena sudah menjadi lifestyle dan tren?

Awal Mula Go Green

Berawal di malam Natal tahun 1968, William Anders, seorang astronot NASA mengambil sebuah foto bumi. Foto ini diambilnya saat mengirimkan orbit ke bulan di misi Apollo 8. William mengambil foto sebuah planet kecil, sendirian di tengah lautan angkasa dan menunjukkan betapa rapuhnya planet tersebut.

Foto itu cukup “menampar” masyarakat dunia, di mana mereka melihat kondisi nyata planet yang dihuninya. Sebuah planet kecil yang rapuh dan membutuhkan kesadaran penghuninya untuk memelihara dan menjaganya.

Namun sebenarnya sudah pernah muncul aktivis-aktivis lingkungan, mulai dari awal abad ke-19, salah satunya, penyair William Wordsworth. Para aktivis lingkungan bermunculan pada saat itu sebagai bagian kesadarannya akibat resolusi industry di Eropa. Mereka paham jika industri yang sedang dijalankan di Eropa tersebut bisa membahayakan lingkungan.

Masalah lingkungan ini mulai diakui ketika seorang tokoh politik di Amerika tahun 1960an, berjuang demi kelestarian lingkungan. Senator Gaylord Nelson, seorang pria asal Wisconsin yang menjabat sebagai senator di Amerika, mulai tahun 1962. Sejak awal masa jabatannya, Nelson sangat giat membahas masalah lingkungan. Namun pada 1969, Nelson baru mengajukan perlunya diadakan gerakan yang harus dilakukan bersama-sama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Kabar baik muncul satu tahun kemudian, di mana pada 22 April 1970 akhirnya dirayakan sebagai Earth Day atau Hari Dunia untuk pertama kalinya. Acara tersebut sangat sukes, dan jutaan penduduk Amerika turut berpartisipasi dalam acara tersebut. 

“Tujuan kita adalah untuk menciptakan lingkungan yang penuh dengan sopan santun, berkualitas, dan saling menghormati antara manusia serta mahluk hidup lainnya,” ungkap Nelson pada kesempatan tersebut. Mulai saat itu, Earth Day dirayakan oleh masyarakat dunia setiap tahunnya.

Kini gerakan Go Green disangkutpautkan dengan masalah global warming dan perubahan cuaca ekstrim, nuklir, es mencair, pengeboman saat memancing iklan, sampai kepunahan spesies. Anda mendengarnya setiap hari di berita, membacanya di Koran, bahkan melihat aksi massa di jalanan yang mendukung gerakan ramah lingkungan di jalanan. Namun apa sekali lagi, apa sebenarnya Going Green?

Going Green merupakan salah satu cara atau jalan yang positif untuk menjaga kelestarian lingkungan. Going Green bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orang-orang mengenai lingkungan dan bagaimana menjaganya.

Going green merupakan suatu cara untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dan bahan lainnya yang bisa membahayakan lingkungan. Going Green juga berarti menemukan alternatif sumber energi yang tidak akan menghasilkan polusi, baik itu bagi tanah, air, dan udara. Going Green merupakan sebuah program untuk mengisi kembali sumber energi  alami yang telah dikonsumsi, dan memperbaiki apa yang telah rusak.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Salah satu pribahasa ini mungkin bisa berlaku pada gaya hidup ramah lingkungan. Ketika Anda lebih mengenal lagi apa itu Going Green, maka kemungkinan untuk lebih mencintai dan mengendapkan gaya hidup ini lebih sempurna.

Berawal dari niat untuk menjaga kelestarian lingkungan demi diri sendiri juga generasi penerus. Langkah sekecil apapun yang Anda lakukan dalam menjalankan gaya hidup ramah lingkungan ini, akan bermanfaat bagi bumi. Terlebih jika dilakukan secara rutin, misalnya membuang sampah di tempatnya, tidak terlalu sering menggunakan kendaraan bermotor, mematikan listrik ketika tidak digunakan, menggunakan air secukupnya, atau memilih cat tembok berbahan ramah lingkungan.

Hal-hal kecil tersebut mungkin Anda lakukan dalam keseharian, namun tidak sadar jika sebenarnya telah berpartisipasi dalam gerakan Go Green. Ketika Anda menyadari aktivitas yang dilakukan tersebut termasuk gerakan ramah lingkungan, dan mengetahui apa dampaknya pada bumi, maka tidak ada salahnya untuk terus menjalankannya. Lakukan gerakan ramah lingkungan ini secara bertahap tentu lebih baik dibandingkan tidak melakukannya sama sekali.

Pemanasan bumi atau global warming yang kini semakin terasa sudah seharusnya “membangunkan” masyarakat dunia. Menyadarkan mereka untuk menyelamatkan bumi yang ditempatinya agar tetap nyaman dan bersahabat. Perkenalkan gaya hidup ramah lingkungan ini sedari dini pada generasi penerus sehingga tidak akan putus aksi penyelamatan Anda terhadap bumi.

Sudah menjadi tanggung jawab penghuni planet ini tentunya, untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan. Jika bukan kita, siapa lagi?