+62 812-1854-1254 info@healthytimes.co.id

Gigi berlubang, gigi tumbuh tidak rapi, tonggos hingga gangguan perkembangan rahang dapat terjadi karena kebiasaan buruk anak si Kecil yang dibiarkan berlangsung terus menerus. Seringnya, orangtua tidak menyadari bahwa kebiasaan yang dianggap lumrah pada anak, ternyata membawa dampak jangka panjang yang tidak baik untuk kesehatan gigi dan mulut.

Dengan mengenal kebiasaan buruk si kecil maka orang tua bisa melakukan pencegahan sedini mungkin. Berikut adalah beberapa kebiasaan berakibat buruk yang sering dilakukan si Kecil:

Minum susu dengan dot

Kebiasaan menyusui atau minum susu dengan menggunakan botol dot di malam hari termasuk menjelang tidur di malam hari, dapat merusak gigi. Kandungan gula pada susu akan merendam gigi, dan bila tidak dibasuh dengan air putih atau dibersihkan, kebiasaan tersebut dapat membuat gigi berlubang.

Biasakan ketika si Kecil selesai minum susu dengan dot, gigi dibasuh dengan air putih agar tidak ada sisa susu yang masih menempel di gigi. Selain itu jangan membiasakan si Kecil minum susu pakai dot ketika tidur. Jika si Kecil sudah memasuki usia 2 tahun, upayakan minum susu dengan gelas atau sendok bukan dengan botol dan dot lagi.

Ngemil makanan ringan dan soda

Kebiasaan makan makanan ringan di antara waktu makan (mengemil)  dan minum minuman bersoda atau minum minuman yang berkadar gula tinggi. Frekuensi mengemil yang terlalu sering dapat menyebabkan derajat keasaman (pH) di dalam rongga mulut turun sehingga email gigi menjadi rentan terhadap gigi berlubang.  Hal yang sama juga terjadi pada saat mereka mengonsumsi minuman bersoda dan minuman manis.

Untuk mencegahnya, kurangi mengemil  makanan dan minuman manis. Makanan manis dapat memicu terbentuknya plak dan produksi  asam oleh bakteri sehingga rongga mulut menjadi lebih asam dan menyebabkan  terjadinya demineralisasi email/karies.

Mengunyah lama

Kebiasaan tidak mengunyah makanan dan membiarkan makanan berada di dalam rongga mulut dalam waktu yang lama (mengemut) dengan mulut tertutup dapat memicu terjadinya gigi berlubang. Hal ini dikarenakan pada saat mulut tertutup, produksi saliva berkurang. Padahal karbohidrat dalam sisa makanan yang berada dalam rongga mulut akan difermentasikan oleh bakteri menjadi asam sehingga dapat memicu penyebab gigi berlubang.

Latih anak untuk mengonsumi makanan padat sesuai tahapan perkembangan usianya agar  anak terlatih untuk mengenal berbagai tekstur makanan. Lebih lanjut, dengan  melatih anak mengunyah dapat merangsang proses pertumbuhan dan perkembangan rahang dan gigi geligi.

Menghisap ibu jari atau dot

Menghisap ibu jari atau dot (kompeng) merupakan kebiasaan yang sering dilakukan  anak karena memberi kenyamanan pada mereka. Namun, kebiasaan ini dapat memengaruhi bentuk kontur rahang, menyebabkan gigi tumbuh tidak beraturan yang selanjutnya dapat mengganggu fungsi mengunyah makanan.

Orangtua hendaknya tidak membiarkan si Kecil memasukkan ibu jari atau memberikan dot pada anak sejak awal, karena kebiasaan ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan rahang serta gigi geligi.

Menggigit kuku atau benda-benda keras lainnya

Menggigit kuku, pensil, es batu atau benda keras lainnya dapat menyebabkan gigi trauma atau mengalami fraktur. Bakteri di pensil atau kuku yang kotor juga dapat masuk ke tubuh anak dan menyebabkan infeksi atau gangguan pencernaan.

Ajari juga anak untuk tidak memasukkan benda apapun ke dalam rongga mulut selain makanan dan minuman yang bergizi. Mengajak anak untuk bermain dapat dijadikan pengalihan fokus agar tidak sembarangan mengigit benda di sekitarnya. Sembarangan mengigit benda dapat menyebabkan maloklusi (susunan yang tidak baik) dan mengganggu pencernaan anak.

Jarang sikat gigi

Anak kecil umumnya susah diminta menyikat gigi teratur. Menyikat gigi dua kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur dapat mengurangi resiko gigi berlubang sebanyak 50%.  Ajarkan anak menyikat gigi dengan benar dari gusi ke gigi, selama 2 menit dan dampingi mereka. Penelitian memperlihatkan bahwa risiko gigi berlubang pada anak berkurang secara signifikan, pada anak yang mendapat pendampingan menyikat gigi dari orang tua mereka.

Takut ke dokter gigi

Ini juga menjadi masalah yang sering ditemui. Selain anak yang takut ke dokter gigi, orangtua juga baru akan mengajak anak berkunjung ke dokter gigi saat anak sudah memiliki masalah pada gigi dan mulut. Ke dokter ketika gigi sakit hanya akan menyebabkan anak trauma untuk datang ke dokter gigi kembali. Mulai sekarang, ajak anak untuk berkunjung ke dokter gigi sejak usia 1 tahun supaya anak terbiasa dan tidak akan takut untuk ke dokter gigi jika mengalami masalah pada gigi dan mulut.